Profil Hamid Awaludin, Mantan Dubes RI untuk Rusia yang Dianugerahi Bintang Al-Fahr
Kamis, 10 Maret 2022 - 21:16 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, KBRI Moskow bersama Kemenag mendatangkan rektor universitas Islam di Rusia untuk bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN). Dilanjutkan dengan kunjunga wakil mufti Rusia ke Indonesia, dan saling kunjung mahasiswa dan doses dari dua negara.
Hamid Awaludin juga dianggap berjasa membangun kerukunan hidup beragama melalui kegiatan interfaith dialogue. "Semua itu menyimpulkan bahwa Yang Mulia adalah saudara kita. Karenanya Dewan Mufti Rusia ingin memberikan lencana paling bergengsi bintang Al-Fahr yang artinya kebanggaan. Yang Mulia adalah kebanggaan umat Islam Rusia," kata Syeikh Ravil.
Mengutip dari situs resmi UIN Alauddin Gowa, Hamid Awaludin mengakui bahwa tantangan Islam di Rusia cukup berat. Salah satunya munculnya aliran Islam yang keras. Kelompok ini tidak toleran terhadap aliran Islam lainnya, apalagi agama lain.
"Aliran Islam yang keras tersebut sangat tidak disukai oleh penduduk Rusia non Islam lainnya dan menyebabkan Islam di sana cukup dibenci. Karena dianggap merupakan agama yang keras dan anarkis," kata mantan Menteri Hukum dan HAM ini saat memberikan kuliah umum di Rektorat UIN Alauddin, Kampus II, Samata, Gowa, Kamis (30/06/2011).
Masalah lainnya adalah karena Islam mengharamkan babi dan alkohol. Sementara alkohol merupakan minuman kesehatan masyarakat Rusia sejak zaman dulu hingga sekarang.
Karena itu dalam sambutan balasan kepada Dewan Mufti Rusia, tugasnya sebagai Dubes RI untuk Federasi Rusia adalah menyebarkan konsep pluralisme, mendorong sikap antikekerasan, kerja sama pendidikan, dan pengembangan kerja sama budaya serta ekonomi Islam.
Hamid Awaludin juga dianggap berjasa membangun kerukunan hidup beragama melalui kegiatan interfaith dialogue. "Semua itu menyimpulkan bahwa Yang Mulia adalah saudara kita. Karenanya Dewan Mufti Rusia ingin memberikan lencana paling bergengsi bintang Al-Fahr yang artinya kebanggaan. Yang Mulia adalah kebanggaan umat Islam Rusia," kata Syeikh Ravil.
Mengutip dari situs resmi UIN Alauddin Gowa, Hamid Awaludin mengakui bahwa tantangan Islam di Rusia cukup berat. Salah satunya munculnya aliran Islam yang keras. Kelompok ini tidak toleran terhadap aliran Islam lainnya, apalagi agama lain.
"Aliran Islam yang keras tersebut sangat tidak disukai oleh penduduk Rusia non Islam lainnya dan menyebabkan Islam di sana cukup dibenci. Karena dianggap merupakan agama yang keras dan anarkis," kata mantan Menteri Hukum dan HAM ini saat memberikan kuliah umum di Rektorat UIN Alauddin, Kampus II, Samata, Gowa, Kamis (30/06/2011).
Masalah lainnya adalah karena Islam mengharamkan babi dan alkohol. Sementara alkohol merupakan minuman kesehatan masyarakat Rusia sejak zaman dulu hingga sekarang.
Karena itu dalam sambutan balasan kepada Dewan Mufti Rusia, tugasnya sebagai Dubes RI untuk Federasi Rusia adalah menyebarkan konsep pluralisme, mendorong sikap antikekerasan, kerja sama pendidikan, dan pengembangan kerja sama budaya serta ekonomi Islam.
Lihat Juga :