Jika Sukses Gaet Kalangan Islam dan Nasionalis, Pengamat: Anies Bisa Menang
Senin, 07 Maret 2022 - 16:37 WIB
loading...
A
A
A
"Apalagi jika dilihat dari survei DTS para kandidat dipilih di wilayah di mana mereka jadi kepala daerah," kata Firman Noor dalam keterangan, Senin (7/3/2022).
"Jadi terlihat bahwa para pemilih menentukan pilihan karena faktor kinerja yang dinilai baik oleh warga masyarakatnya. Pak Anies di Jakarta atau Pak Ganjar di Jawa Tengah. Oleh karenanya wajar jika seandainya pilkada dilakukan saat ini, mereka pasti akan terpilih kembali," tambahnya.
Firman juga menyoroti skenario head to head (persaingan dua nama kandidat) yang berkutat antara Anies, Ganjar, dan Prabowo. Menurutnya masing-masing punya kekuatan dan kelemahan tersendiri. Misalnya saja Anies yang berpeluang didukung oleh kalangan Islam dan Nasionalis.
"Pak Anies merupakan kandidat yang layak diperhitungkan, selalu muncul di tiga besar. Memiliki relawan meski belum cukup sistematis dan kerap mendapatkan pemberitaan yang minim, prestasinya kadang dinilai belum terlihat bahkan negatif," paparnya.
"Bagi Pak Anies yang cenderung tidak diposisikan sebagai murni kalangan Nasionalis, justru membuka peluang mendapatkan dukungan yang cukup fleksibel dari kalangan Islam maupun Nasionalis," sambungnya.
Sementara Pak Ganjar sambung Firman, dibandingkan tahun lalu dan awal tahun ini punya tren dukungan sangat positif, di mana pada saat yang sama ada peristiwa Wadas yang berpotensi mengganggu tren positif itu. Namun kelemahannnya adalah hingga saat ini belum memiliki tiket dari partainya yakni PDIP.
"Pak Ganjar sebagaimana tokoh-tokoh PDIP selama ini, punya basis dukungan kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta ormas NU. Jokowi's effect juga berpotensi akan berpengaruh pada elektabilitas Pak Ganjar. kelemahannya adalah masih berstatus 'pembalap yang belum punya mobil'. Tapi masih ada peluang jika pada menit terakhir didukung penuh oleh PDIP," tutur Firman.
Yang menarik, sambung Firman, adalah bahwa pendukung Anies Baswedan ini tidak beririsan (tidak saling memilih) dengan pendukung Ganjar Pranowo.
"Jadi terlihat bahwa para pemilih menentukan pilihan karena faktor kinerja yang dinilai baik oleh warga masyarakatnya. Pak Anies di Jakarta atau Pak Ganjar di Jawa Tengah. Oleh karenanya wajar jika seandainya pilkada dilakukan saat ini, mereka pasti akan terpilih kembali," tambahnya.
Firman juga menyoroti skenario head to head (persaingan dua nama kandidat) yang berkutat antara Anies, Ganjar, dan Prabowo. Menurutnya masing-masing punya kekuatan dan kelemahan tersendiri. Misalnya saja Anies yang berpeluang didukung oleh kalangan Islam dan Nasionalis.
"Pak Anies merupakan kandidat yang layak diperhitungkan, selalu muncul di tiga besar. Memiliki relawan meski belum cukup sistematis dan kerap mendapatkan pemberitaan yang minim, prestasinya kadang dinilai belum terlihat bahkan negatif," paparnya.
"Bagi Pak Anies yang cenderung tidak diposisikan sebagai murni kalangan Nasionalis, justru membuka peluang mendapatkan dukungan yang cukup fleksibel dari kalangan Islam maupun Nasionalis," sambungnya.
Sementara Pak Ganjar sambung Firman, dibandingkan tahun lalu dan awal tahun ini punya tren dukungan sangat positif, di mana pada saat yang sama ada peristiwa Wadas yang berpotensi mengganggu tren positif itu. Namun kelemahannnya adalah hingga saat ini belum memiliki tiket dari partainya yakni PDIP.
"Pak Ganjar sebagaimana tokoh-tokoh PDIP selama ini, punya basis dukungan kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta ormas NU. Jokowi's effect juga berpotensi akan berpengaruh pada elektabilitas Pak Ganjar. kelemahannya adalah masih berstatus 'pembalap yang belum punya mobil'. Tapi masih ada peluang jika pada menit terakhir didukung penuh oleh PDIP," tutur Firman.
Yang menarik, sambung Firman, adalah bahwa pendukung Anies Baswedan ini tidak beririsan (tidak saling memilih) dengan pendukung Ganjar Pranowo.
Lihat Juga :