Tak Cantumkan Nama Soeharto, Keppres Serangan Umum 1 Maret Tuai Kecaman
Minggu, 06 Maret 2022 - 23:41 WIB
loading...
Warga saat melintasi mural Presiden Ke-2 Soeharto di kawasan Cipondoh, Kota Tangerang, Senin (16/8/2021). Fotografer: Yulianto/SINDOphoto
A
A
A
JAKARTA - Keputusan Presiden (Keppres) Serangan Umum 1 Maret Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang tidak mencantumkan nama mendiang Presiden Soeharto menuai kecaman. Salah satunya datang dari Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS).
Ketua Umum Gerakan HMS Center, Hardjuno Wiwoho menyayangkan sikap yang diambil Presiden Jokowi karena tidak mencantumkan nama Presiden Ke-2 itu. Soeharto merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam peristiwa Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949. Bahkan, jasanya sangat besar bagi bangsa ini.
"Saya kira, ini sebuah keputusan politik yang sulit diterima akal sehat. Agak aneh saja bagi saya," kata Hardjuno di Jakarta, Minggu (6/3/2022). Baca juga: Soal Nama Soeharto, Mahfud MD Bersikukuh Keppres Hari Kedaulatan Negara Tepat
Menurutnya, peran Soeharto dalam peristiwa tersebut sangat besar. Karena itu, menghilangkan peran Soeharto sama dengan bagian memanipulasi sejarah bangsa Indonesia.
"Menghilangkan peran Pak Harto dalam peristiwa 1 Maret 1949 sangat tendensius. Ini keputusan politik yang dilandasi kebencian dari rezim yang berkuasa saat ini," tandasnya.
Keputusan tersebut sangat tidak relevan, padahal lanjut dia, berdasarkan instruksi rahasia tanggal18 Februari 1949yang dikeluarkan oleh Gubernur Militer III/Panglima Divisi III, Kolonel Bambang Sugeng, terlihat jelas peran Letnan Kolonel Soeharto.
Ketua Umum Gerakan HMS Center, Hardjuno Wiwoho menyayangkan sikap yang diambil Presiden Jokowi karena tidak mencantumkan nama Presiden Ke-2 itu. Soeharto merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam peristiwa Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949. Bahkan, jasanya sangat besar bagi bangsa ini.
"Saya kira, ini sebuah keputusan politik yang sulit diterima akal sehat. Agak aneh saja bagi saya," kata Hardjuno di Jakarta, Minggu (6/3/2022). Baca juga: Soal Nama Soeharto, Mahfud MD Bersikukuh Keppres Hari Kedaulatan Negara Tepat
Menurutnya, peran Soeharto dalam peristiwa tersebut sangat besar. Karena itu, menghilangkan peran Soeharto sama dengan bagian memanipulasi sejarah bangsa Indonesia.
"Menghilangkan peran Pak Harto dalam peristiwa 1 Maret 1949 sangat tendensius. Ini keputusan politik yang dilandasi kebencian dari rezim yang berkuasa saat ini," tandasnya.
Keputusan tersebut sangat tidak relevan, padahal lanjut dia, berdasarkan instruksi rahasia tanggal18 Februari 1949yang dikeluarkan oleh Gubernur Militer III/Panglima Divisi III, Kolonel Bambang Sugeng, terlihat jelas peran Letnan Kolonel Soeharto.
Lihat Juga :