Muhammadiyah: RUU HIP Kuras Energi dan Berpotensi Pecah Belah Bangsa
Senin, 15 Juni 2020 - 14:50 WIB
loading...
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Muti (dua dari kiri) dalam jumpa pers di kantornya, Senin (15/6/2020). Foto/SINDOnews/Raka Dwi Novianto
A
A
A
JAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta DPR dan pemerintah untuk menghentikan pembahasan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) karena banyak penolakan yang hadir dari berbagai elemen masyarakat.
"RUU HIP mendapatkan penolakan dari berbagai elemen masyarakat," ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti dalam jumpa pers di kantornya, Senin (15/6/2020).
Menurut dia, jika pembahasan RUU HIP tetap dilanjutkan maka akan menimbulkan kontroversi ke depannya.
"Jika pembahasan dipaksakan untuk dilanjutkan berpotensi menimbulkan kontroversi yang kontra produktif dan membuka kembali perdebatan dan polemik ideologis dalam sejarah perumusan Pancasila yang sudah berakhir dan harus diakhiri setelah tercapai kesepakatan luhur, arif dan bijaksana dari para pendiri bangsa," jelasnya.
Abdul Mu'ti mengungkapkan kontroversi RUU HIP akan menguras energi bangsa dan bisa memecah belah persatuan, lebih-lebih di tengah negara dan bangsa Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 yang sangat berat dengan segala dampaknya.
"RUU HIP mendapatkan penolakan dari berbagai elemen masyarakat," ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti dalam jumpa pers di kantornya, Senin (15/6/2020).
Menurut dia, jika pembahasan RUU HIP tetap dilanjutkan maka akan menimbulkan kontroversi ke depannya.
"Jika pembahasan dipaksakan untuk dilanjutkan berpotensi menimbulkan kontroversi yang kontra produktif dan membuka kembali perdebatan dan polemik ideologis dalam sejarah perumusan Pancasila yang sudah berakhir dan harus diakhiri setelah tercapai kesepakatan luhur, arif dan bijaksana dari para pendiri bangsa," jelasnya.
Abdul Mu'ti mengungkapkan kontroversi RUU HIP akan menguras energi bangsa dan bisa memecah belah persatuan, lebih-lebih di tengah negara dan bangsa Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 yang sangat berat dengan segala dampaknya.
Lihat Juga :