PCINU Inggris Raya: Ada Pola Serangan Computational Propaganda terhadap NU
Rabu, 02 Maret 2022 - 18:52 WIB
loading...
A
A
A
Munawir Aziz menyampaikan bahwa ketika Muktamar NU, KH Yahya Cholil Qoumas alias Gus Yahya mendapat serangan terkait isu antek Yahudi dan gerakan zionis. "Serangan terhadap Gus Yahya dilancarkan pihak luar NU. Waktu itu juga ada isu terkait pencopotan pejabat di Kemenag untuk mempengaruhi publik, tapi tidak berhasil," katanya.
Ketika Muktamar NU, Munawir Aziz bersama tim PCINU UK melalukan monitoring untuk khidmah terhadap forum Muktamar. "Ya kami waktu itu untuk khidmah, karena tidak bisa pulang ke Indonesia karena peraturan di Inggris yang ketat terkait protokol kesehatan. Selain itu, sebagai atisipasi agar di media sosial, tidak ada yang memecah NU dari luar. Hasil monitoring ini sudah saya sampaikan ke beberapa pihak, terutama para decision maker di NU untuk bahan analisa," katanya.
Baca juga: Wasekjen PBNU Bela Menag, Anggap Pengkritik Tak Paham Wawasan Kebangsaan
Pasca Muktamar NU, serangan berlanjut terhadap pendakwah Gus Miftah dan kemudian Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas. "Intinya, ada pola yang menggeser dari voice ke noise. Jadi, dari percakapan yang strategis dan urgent, digeser ke keributan, jadinya noise. Gus Miftah mengkritik pendakwah yang mengharamkan wayang, tapi kemudian keributan dibikin untuk mendeligitimasi Gus Miftah," katanya.
"Begitu juga dengan kasus aturan toa, perbincangan dibelokkan ke pembahasan azan dan gonggongan anjing. Ini menggeser voice ke noise, jadinya subtansinya dilupakan, tapi yang diributkan kebisingannya," kata Munawir.
Menurutnya, para influencer NU harus mengerti bagaimana bersikap dan melakukan respons. "Kita harus melihat peta secara detail, dengan lapisan-lapisan propaganda ini. Tapi, intinya para tokoh NU ya jangan sampai kehilangan koordinasi, dan terus saling menguatkan. Di sisi lain, konsolidasi jamaah dan jamiyyah juga penting untuk diteruskan, serta penguatan sosial ekonomi dan juga teknokrasi untuk leadership dan kelembagaan. Ini tantangan untuk kita semua, kader-kader santri," ujarnya.
Ketika Muktamar NU, Munawir Aziz bersama tim PCINU UK melalukan monitoring untuk khidmah terhadap forum Muktamar. "Ya kami waktu itu untuk khidmah, karena tidak bisa pulang ke Indonesia karena peraturan di Inggris yang ketat terkait protokol kesehatan. Selain itu, sebagai atisipasi agar di media sosial, tidak ada yang memecah NU dari luar. Hasil monitoring ini sudah saya sampaikan ke beberapa pihak, terutama para decision maker di NU untuk bahan analisa," katanya.
Baca juga: Wasekjen PBNU Bela Menag, Anggap Pengkritik Tak Paham Wawasan Kebangsaan
Pasca Muktamar NU, serangan berlanjut terhadap pendakwah Gus Miftah dan kemudian Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas. "Intinya, ada pola yang menggeser dari voice ke noise. Jadi, dari percakapan yang strategis dan urgent, digeser ke keributan, jadinya noise. Gus Miftah mengkritik pendakwah yang mengharamkan wayang, tapi kemudian keributan dibikin untuk mendeligitimasi Gus Miftah," katanya.
"Begitu juga dengan kasus aturan toa, perbincangan dibelokkan ke pembahasan azan dan gonggongan anjing. Ini menggeser voice ke noise, jadinya subtansinya dilupakan, tapi yang diributkan kebisingannya," kata Munawir.
Menurutnya, para influencer NU harus mengerti bagaimana bersikap dan melakukan respons. "Kita harus melihat peta secara detail, dengan lapisan-lapisan propaganda ini. Tapi, intinya para tokoh NU ya jangan sampai kehilangan koordinasi, dan terus saling menguatkan. Di sisi lain, konsolidasi jamaah dan jamiyyah juga penting untuk diteruskan, serta penguatan sosial ekonomi dan juga teknokrasi untuk leadership dan kelembagaan. Ini tantangan untuk kita semua, kader-kader santri," ujarnya.
(abd)
Lihat Juga :