CSIS Sebut Dorongan Menunda Pemilu 2024 Mengingkari Komitmen Demokrasi, Harus Ditolak
Minggu, 27 Februari 2022 - 06:53 WIB
loading...
Peneliti Politik CSIS Arya Fernandes menyatakan bahwa usulan beberapa pimpinan partai politik yang ingin menunda Pemilu 2024 harus ditolak oleh masyarakat karena tidak masuk akal dan tidak demokratis. FOTO/TANGKAPAN LAYAR/ANTARA/
A
A
A
JAKARTA - Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Indonesia, Arya Fernandes menyatakan bahwa usulan beberapa pimpinan partai politik yang ingin menunda Pemilu 2024 harus ditolak oleh masyarakat karena tidak masuk akal dan tidak demokratis. Menurut dia, Pemilu harus tetap digelar sesuai jadwal karena itu merupakan amanat konstitusi yang menghendaki adanya pembatasan masa jabatan dan kekuasaan presiden.
"Dalam sistem presidensial (yang dianut oleh Indonesia) ada doktrin pembatasan kekuasaan. Tujuannya, memberi kemungkinan ada regenerasi politik, kemudian ada sirkulasi kepemimpinan, yang lebih penting lagi agar pejabat eksekutif tidak membuat kebijakan yang tidak demokratis," kata Arya saat berbicara pada acara diskusi virtual yang diikuti di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Minggu (27/2/2022).
Arya pun menolak alasan para pimpinan parpol yang menghendaki Pemilu 2024 ditunda. Arya menyampaikan ada dua argumen yang dijadikan oleh para pimpinan parpol itu menunda Pemilu, yaitu menjaga momentum pemulihan ekonomi, dan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi terhadap kinerja pemerintah.
Arya menanggapi bahwa alasan ekonomi itu tidak masuk akal, karena pertumbuhan ekonomi telah membaik.
"Data-data ekonomi (menunjukkan) sekarang kita sudah tumbuh dan membaik. Pertumbuhan ekonomi, PDB (Produk Domestik Bruto) kita year on year pada 2020 -2,07%, sementara pada 2021 +3,39%. Kita berhasil tumbuh. Artinya, ekonomi sedang membaik," kata Arya.
Beberapa lembaga keuangan, termasuk Bank Indonesia, bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa sampai 6% pada 2023–2024.
"Dalam sistem presidensial (yang dianut oleh Indonesia) ada doktrin pembatasan kekuasaan. Tujuannya, memberi kemungkinan ada regenerasi politik, kemudian ada sirkulasi kepemimpinan, yang lebih penting lagi agar pejabat eksekutif tidak membuat kebijakan yang tidak demokratis," kata Arya saat berbicara pada acara diskusi virtual yang diikuti di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Minggu (27/2/2022).
Arya pun menolak alasan para pimpinan parpol yang menghendaki Pemilu 2024 ditunda. Arya menyampaikan ada dua argumen yang dijadikan oleh para pimpinan parpol itu menunda Pemilu, yaitu menjaga momentum pemulihan ekonomi, dan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi terhadap kinerja pemerintah.
Arya menanggapi bahwa alasan ekonomi itu tidak masuk akal, karena pertumbuhan ekonomi telah membaik.
"Data-data ekonomi (menunjukkan) sekarang kita sudah tumbuh dan membaik. Pertumbuhan ekonomi, PDB (Produk Domestik Bruto) kita year on year pada 2020 -2,07%, sementara pada 2021 +3,39%. Kita berhasil tumbuh. Artinya, ekonomi sedang membaik," kata Arya.
Beberapa lembaga keuangan, termasuk Bank Indonesia, bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa sampai 6% pada 2023–2024.
Lihat Juga :