Perindo Tegaskan Radikalisme Dapat Dicegah dengan Penguatan Nasionalisme
Jum'at, 28 Januari 2022 - 08:11 WIB
loading...
Ketua DPP Partai Perindo Bidang Pertahanan dan Keamanan, Susaningtyas Kertopati mengatakan, gerakan radikalisme tak hanya berkaitan dengan agama semata. Foto/Tangkapan Layar
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPP Partai Persatuan Indonesia ( Perindo ) Bidang Pertahanan dan Keamanan, Susaningtyas Kertopati mengatakan, paham dan gerakan radikalisme tak hanya berkaitan dengan atau agama semata. Menurutnya, paham tersebut bisa saja menggerogoti agama lain.
"Ketika kita berbicara radikalisme tidak bisa berbicara hanya dengan 1 agama. Namun, juga berbagai macam agama itu bisa saja menjadi radikal," kata Susaningtyas dalam diskusi bersama MNC News, Kamis (27/1/2022).
Untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo, kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo
Untuk menghindari hal tersebut, perempuan yang biasa dipanggil Nuning itu mengatakan, diharapkan adanya penguatan nasionalisme. Menurutnya, target utama dari penguatan nasionalisme dapat ditujukan kepada generasi milenial maupun kaum perempuan.
"Nah untuk kita menghindarkan itu tentunya harus semakin ada penguatan nasionalisme kepada bangsa kita. Utamanya kaum milenial, karena itu yang paling banyak dan mudah untuk terpengaruh," katanya.
Ia menyebutkan, saat ini peperangan tak hanya mengandalkan fisik semata, tapi juga ada yang disebut perang asimetris. Nuning menjelaskan, perang asimetris kerap digunakan untuk menggaet masyarakat untuk menjadi radikal maupun esktremis.
"Ketika kita berbicara radikalisme tidak bisa berbicara hanya dengan 1 agama. Namun, juga berbagai macam agama itu bisa saja menjadi radikal," kata Susaningtyas dalam diskusi bersama MNC News, Kamis (27/1/2022).
Untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo, kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo
Untuk menghindari hal tersebut, perempuan yang biasa dipanggil Nuning itu mengatakan, diharapkan adanya penguatan nasionalisme. Menurutnya, target utama dari penguatan nasionalisme dapat ditujukan kepada generasi milenial maupun kaum perempuan.
"Nah untuk kita menghindarkan itu tentunya harus semakin ada penguatan nasionalisme kepada bangsa kita. Utamanya kaum milenial, karena itu yang paling banyak dan mudah untuk terpengaruh," katanya.
Ia menyebutkan, saat ini peperangan tak hanya mengandalkan fisik semata, tapi juga ada yang disebut perang asimetris. Nuning menjelaskan, perang asimetris kerap digunakan untuk menggaet masyarakat untuk menjadi radikal maupun esktremis.
Lihat Juga :