Momen Pergulatan Gus Yahya Menjadi Kader hingga Menjadi Ketum PBNU
Jum'at, 24 Desember 2021 - 11:39 WIB
loading...
A
A
A
Momen yang paling penting hingga akhirnya NU menjadi pergulatan batinnya adalah ketika Gus Yahya memimpin pengumandangan lagu Indonesia Raya dalam pembukaan Muktamar ke-28 di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta asuhan KH Ali Maksud. Gus Yahya menghabiskan waktu sekitar 15 tahun belajar di pesantren ini. Sebelumnya ia telebih dulu belajar ngaji di Pesantren Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin di Leteh, Rembang milik orang tuanya.
"Saat pembukaan acara, saya memimpin lagu Indonesia raya. Saya kira sejak itu NU jadi pusat pergulatan mental saya," imbuhnya.
Baca juga: Profil KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU Periode 2021-2026
Selain sang ayah dan Kiai Ali Maksum, tokoh lain yang mengadernya di NU adalah pamannya, KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Saat kuliah di FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM), dirinya sering diajak ayah dan pamannya ikut acara NU. Salah satunya pada 1987, Gus Mus mengajaknya ikut pertemuan para ulama di Jakarta. Di forum inilah, Gus Yahya bertemu langsung dan berbincang panjang lebar dengan Gus Dur.
"Saya beruntung, karena paman dekat dengan Gus Dur. Setiap ketemu paman, ngobrol tentang Gus Dur. Terutama saat Gus Dur jadi ketua umum. Obrolan saya dengan paman ini diceritakannya ke Gus Dur. Akhirnya Gus Dur juga tahu tentang saya," katanya.
Dari pertemuan itu, Gus Yahya menjadi dekat dengan Gus Dur. Hingga akhirnya Gus Yahya ditunjuk menjadi juru bicara ketika Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI pada 1999-2001. Gus Yahya sering bertugas menemani Gus Dur saat tidak ada tamu negara.
Di luar hubungan kerja, Gus Dur juga kerap membicarakan banyak hal dengan Gus Yahya, dari mulai fikih, kaidah fikih, ushul fikih, politik, dan kadang strategi perang.
"Saat pembukaan acara, saya memimpin lagu Indonesia raya. Saya kira sejak itu NU jadi pusat pergulatan mental saya," imbuhnya.
Baca juga: Profil KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU Periode 2021-2026
Selain sang ayah dan Kiai Ali Maksum, tokoh lain yang mengadernya di NU adalah pamannya, KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Saat kuliah di FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM), dirinya sering diajak ayah dan pamannya ikut acara NU. Salah satunya pada 1987, Gus Mus mengajaknya ikut pertemuan para ulama di Jakarta. Di forum inilah, Gus Yahya bertemu langsung dan berbincang panjang lebar dengan Gus Dur.
"Saya beruntung, karena paman dekat dengan Gus Dur. Setiap ketemu paman, ngobrol tentang Gus Dur. Terutama saat Gus Dur jadi ketua umum. Obrolan saya dengan paman ini diceritakannya ke Gus Dur. Akhirnya Gus Dur juga tahu tentang saya," katanya.
Dari pertemuan itu, Gus Yahya menjadi dekat dengan Gus Dur. Hingga akhirnya Gus Yahya ditunjuk menjadi juru bicara ketika Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI pada 1999-2001. Gus Yahya sering bertugas menemani Gus Dur saat tidak ada tamu negara.
Di luar hubungan kerja, Gus Dur juga kerap membicarakan banyak hal dengan Gus Yahya, dari mulai fikih, kaidah fikih, ushul fikih, politik, dan kadang strategi perang.
Lihat Juga :