Peneliti SMRC Ungkap Daya Tarik Politik NU
Senin, 13 Desember 2021 - 07:55 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak memiliki makna tunggal. Dia (Yahya Staquf) tidak melarang. Ini pernyataan politis untuk melihat inisiasi antara dia dengan lawan dalam kompetisi Ketum PBNU. Dia tidak mengatakan tidak boleh. Tapi dia hanya mengatakan perubahan. Tentu NU sebagai organisasi besar sangat menarik partai-partai," kata Saidiman.
Baca juga: SC Muktamar NU Tegaskan Metode Pemilihan Ketum Belum Dibahas
Berkaca pada hasil survei SMRC, Saidiman mengatakan, massa NU itu rasional dalam beragama maupun berpolitik. Hanya 4% yang mendengar dari tokoh agama terkait penanganan Covid-19 dan kebijakan PPKM.
"Ada pandangan massa NU selalu tegak lurus. Tapi menurut saya massa NU rasional dalam beragama. Dan itu tercermin dalam politik. Itu tercermin dalam survei yang dilakukan, seperti soal PPKM, hanya 4% yang mendengar dari tokoh agama. Lebih banyak mendengar dari dokter. Jadi religiusitas tinggi tidak serta-merta tegak lurus, tapi rasional. Dan itu tercermin dalam berpolitik. meski religiusitas tinggi, tapi dalam keduniaan, bicara soal politik sangat rasional," kata Saidiman.
Baca juga: SC Muktamar NU Tegaskan Metode Pemilihan Ketum Belum Dibahas
Berkaca pada hasil survei SMRC, Saidiman mengatakan, massa NU itu rasional dalam beragama maupun berpolitik. Hanya 4% yang mendengar dari tokoh agama terkait penanganan Covid-19 dan kebijakan PPKM.
"Ada pandangan massa NU selalu tegak lurus. Tapi menurut saya massa NU rasional dalam beragama. Dan itu tercermin dalam politik. Itu tercermin dalam survei yang dilakukan, seperti soal PPKM, hanya 4% yang mendengar dari tokoh agama. Lebih banyak mendengar dari dokter. Jadi religiusitas tinggi tidak serta-merta tegak lurus, tapi rasional. Dan itu tercermin dalam berpolitik. meski religiusitas tinggi, tapi dalam keduniaan, bicara soal politik sangat rasional," kata Saidiman.
(muh)
Lihat Juga :