Peserta PTKI Kemenag Harus Siap Kelola Negara
Minggu, 12 Desember 2021 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, syarah dituliskan untuk melengkapi kembali teks-teks matan yang dianggap masih kurang. Kemudian hasyiyah, umumnya dituliskan sebagai tulisan pelengkap yang didalamnya berisi komentar dan tanggapan penulis lain.
Dia menuturkan ketiga metodologi tersebut seringkali dituliskan pada satu buku yang sama. Politikus senior PPP ini juga menjelaskan, dalam literasi keagamaan Islam, hubungan antara murid, dan guru sangatlah dekat.
Menurut dia, terkadang relasi keduanya diwujudkan dalam bentuk sikap penghormatan yang luar biasa dari murid kepada sang guru. Dalam metodologi penulisan matan dan syarah, dia mengatakan keduanya bisa bertemu baik secara fisik, atau teks, atau fisik dan teks.
Dalam literasi keagamaan Islam juga memiliki sistem transmisi keilmuan yang sambung menyambung, dari generasi penulis pertama hingga penulis berikutnya. Bahkan kata Endin, silsilah keilmuannya mereka menyambung kepada sumber ilmu pertama yaitu baginda Rasulullah SAW. "Sudah banyak buku-buku yang ditulis pada ratusan tahun yang lalu itu sudah menggunakan rujukan penulisan secara silsilah," ujarnya.
Dia juga mengajak peserta Diklatpimnas Kemenag agar mengimplementasikan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mencintai Tanah Air. Meskipun, diakuinya, banyak masyarakat mengekspresikan wujud kecintaan Tanah Air mereka secara beragam melalui slogan seperti "NKRI Harga Mati", "Garuda di Dadaku", "Jangan Pulang Sebelum Menang" dan lain sebagainya.
Dia menuturkan ketiga metodologi tersebut seringkali dituliskan pada satu buku yang sama. Politikus senior PPP ini juga menjelaskan, dalam literasi keagamaan Islam, hubungan antara murid, dan guru sangatlah dekat.
Menurut dia, terkadang relasi keduanya diwujudkan dalam bentuk sikap penghormatan yang luar biasa dari murid kepada sang guru. Dalam metodologi penulisan matan dan syarah, dia mengatakan keduanya bisa bertemu baik secara fisik, atau teks, atau fisik dan teks.
Dalam literasi keagamaan Islam juga memiliki sistem transmisi keilmuan yang sambung menyambung, dari generasi penulis pertama hingga penulis berikutnya. Bahkan kata Endin, silsilah keilmuannya mereka menyambung kepada sumber ilmu pertama yaitu baginda Rasulullah SAW. "Sudah banyak buku-buku yang ditulis pada ratusan tahun yang lalu itu sudah menggunakan rujukan penulisan secara silsilah," ujarnya.
Dia juga mengajak peserta Diklatpimnas Kemenag agar mengimplementasikan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mencintai Tanah Air. Meskipun, diakuinya, banyak masyarakat mengekspresikan wujud kecintaan Tanah Air mereka secara beragam melalui slogan seperti "NKRI Harga Mati", "Garuda di Dadaku", "Jangan Pulang Sebelum Menang" dan lain sebagainya.
(rca)
Lihat Juga :