Jelang Muktamar ke-34 NU, PBNU Perlu Pemimpin Pemersatu
Kamis, 09 Desember 2021 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Maju Jadi Calon Ketum PBNU, Said Aqil: Saya Terima Permintaan dan Perintah Kiai Sepuh
Lain halnya dengan KH Yahya Cholil Staquf. Pernyataan-pernyataannya dinilai sejumlah pihak kerap membuat gaduh seperti menyindir Habib Umar bin Hafidz pada postingan media sosialnya. Padahal, Habib Umar merupakan ulama besar Ahlul Bait Nabi SAW dan tamu kehormatan para ulama Indonesia, serta kedatangannya menyebarkan kesejukan Islam yang rahmatan lil ‘aalamin.
Selain itu, kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel memicu hujan kritik seputar simbolisme lawatan yang diyakini serupa dengan pengakuan terhadap negeri Yahudi. Pria yang akrab dipanggil Gus Yahya itu hadir di Yerusalem atas undangan organisasi lobi American Jewish Committee (AJC). Gus Yahya diundang dan menjadi salah satu pembicara dalam forum AJC yang berlangsung di Yerusalem pada 10-13 Juni.
Di forum AJC, Gus Yahya sempat berbicara selama sekitar 14 menit yang dipandu moderator Rabi David Rosen, Direktur Internasional Urusan Agama AJC. Kehadiran Gus Yahya di forum tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Dari dalam negeri, kritik datang dari kubu yang berseberangan dengan pemerintah maupun dari Kiai NU sendiri. Belakangan, kritik datang pula dari kelompok militan Hamas dan Pemerintah Palestina.
Mereka mengecam kehadiran Gus Yahya karena dianggap gak sesuai dengan sikap resmi pemerintah dan rakyat Indonesia yang sebagian besar muslim. Sejak awal, sikap yang diterapkan Indonesia yakni membela agar Palestina bisa meraih kemerdekaan penuh dari Israel. Sebab, Israel masih menduduki sebagian wilayah mereka. ”Apalagi kita sekarang sedang menghadapi pandemi Covid-19, sangat dibutuhkan pemimpin NU yang bisa kerja sama dengan semua pihak, bukan malah membuat kegaduhan,” ucapnya.
Lain halnya dengan KH Yahya Cholil Staquf. Pernyataan-pernyataannya dinilai sejumlah pihak kerap membuat gaduh seperti menyindir Habib Umar bin Hafidz pada postingan media sosialnya. Padahal, Habib Umar merupakan ulama besar Ahlul Bait Nabi SAW dan tamu kehormatan para ulama Indonesia, serta kedatangannya menyebarkan kesejukan Islam yang rahmatan lil ‘aalamin.
Selain itu, kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel memicu hujan kritik seputar simbolisme lawatan yang diyakini serupa dengan pengakuan terhadap negeri Yahudi. Pria yang akrab dipanggil Gus Yahya itu hadir di Yerusalem atas undangan organisasi lobi American Jewish Committee (AJC). Gus Yahya diundang dan menjadi salah satu pembicara dalam forum AJC yang berlangsung di Yerusalem pada 10-13 Juni.
Di forum AJC, Gus Yahya sempat berbicara selama sekitar 14 menit yang dipandu moderator Rabi David Rosen, Direktur Internasional Urusan Agama AJC. Kehadiran Gus Yahya di forum tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Dari dalam negeri, kritik datang dari kubu yang berseberangan dengan pemerintah maupun dari Kiai NU sendiri. Belakangan, kritik datang pula dari kelompok militan Hamas dan Pemerintah Palestina.
Mereka mengecam kehadiran Gus Yahya karena dianggap gak sesuai dengan sikap resmi pemerintah dan rakyat Indonesia yang sebagian besar muslim. Sejak awal, sikap yang diterapkan Indonesia yakni membela agar Palestina bisa meraih kemerdekaan penuh dari Israel. Sebab, Israel masih menduduki sebagian wilayah mereka. ”Apalagi kita sekarang sedang menghadapi pandemi Covid-19, sangat dibutuhkan pemimpin NU yang bisa kerja sama dengan semua pihak, bukan malah membuat kegaduhan,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :