Kisah 2 Paman Prabowo yang Gugur di Usia Belia saat Bertempur Bersama Daan Mogot
Senin, 15 November 2021 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Daan Mogot merupakan sosok tentara dengan karier cemerlang. Pria kelahiran Manado itu menjadi mayor pada usia 16 tahun setelah mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (Peta) di usia 14 tahun. Pada 1944, Daan Mogot ditempatkan sebagai staf Markas Besar Peta di Jakarta hingga Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan RI itu dia bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan mendapat pangkat mayor.
“Berbekal pengalamannya sebagai pelatih Peta di Bali, Daan Mogot bersama rekan-rekan sesama perwira menggagas pendidikan akademi militer. Gagasannya ditanggapi serius Markas Besar Tentara di Jakarta dan pada November 1945 berdirilah Militaire Academi Tangerang (MAT),” kata Prabowo.
Baca juga: Misteri Buku Kecil LB Moerdani Dibongkar Jenderal Kopassus, Isinya Mencengangkan
Karena kegigihan dan keberhasilan memimpin pasukan, Daan Mogot dipercaya menjadi direktur Akademi Militer Tangerang yang pertama. Dia diberi tugas mendidik calon-calon perwira Indonesia untuk ikut serta dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI.
Pertempuran Lengkong
Pada Januari 1946 pasukan Belanda dan KNIL menduduki Parung dalam upaya untuk menguasai kembali wilayah Indonesia. Target pasukan tersebut adalah depot senjata tentara Jepang di Lengkong, Serpong. Pada 25 Januari 1946, berangkatlah pasukan di bawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Berkekuatan 70 kadet Akademi Militer Tangerang dan 8 tentara Gurkha, misi pasukan Daan Mogot adalah mencegah senjata tentara Jepang jatuh ke tangan Belanda.
Prabowo menceritakan, pada pukul 16.00 pasukan tiba di markas Jepang. Kehadiran empat serdadu Gurkha berhasil meyakinkan Jepang bahwa rombongan pasukan yang datang yakni gabungan TKR dan sekutu.
“Berbekal pengalamannya sebagai pelatih Peta di Bali, Daan Mogot bersama rekan-rekan sesama perwira menggagas pendidikan akademi militer. Gagasannya ditanggapi serius Markas Besar Tentara di Jakarta dan pada November 1945 berdirilah Militaire Academi Tangerang (MAT),” kata Prabowo.
Baca juga: Misteri Buku Kecil LB Moerdani Dibongkar Jenderal Kopassus, Isinya Mencengangkan
Karena kegigihan dan keberhasilan memimpin pasukan, Daan Mogot dipercaya menjadi direktur Akademi Militer Tangerang yang pertama. Dia diberi tugas mendidik calon-calon perwira Indonesia untuk ikut serta dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI.
Pertempuran Lengkong
Pada Januari 1946 pasukan Belanda dan KNIL menduduki Parung dalam upaya untuk menguasai kembali wilayah Indonesia. Target pasukan tersebut adalah depot senjata tentara Jepang di Lengkong, Serpong. Pada 25 Januari 1946, berangkatlah pasukan di bawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Berkekuatan 70 kadet Akademi Militer Tangerang dan 8 tentara Gurkha, misi pasukan Daan Mogot adalah mencegah senjata tentara Jepang jatuh ke tangan Belanda.
Prabowo menceritakan, pada pukul 16.00 pasukan tiba di markas Jepang. Kehadiran empat serdadu Gurkha berhasil meyakinkan Jepang bahwa rombongan pasukan yang datang yakni gabungan TKR dan sekutu.
Lihat Juga :