PKN Ingin Kontestasi Pilpres Bukan Hanya untuk Putra-putri Pemilik Parpol
Jum'at, 05 November 2021 - 10:45 WIB
loading...
A
A
A
Sehingga, kata mantan politisi Partai Demokrat ini, semua partai peserta pemilu bisa mengusung calon di legislatif maupun di eksekutif. Tapi ia yakin bahwa partai di DPR enggan melakukan itu. Padahal, perlu dipikirkan bagaimana semua anak bangsa mampu menerobos oligarki partai. Sehingga Pilpres bukan hanya untuk putra-putri pemilik partai.
"Dia mampu menerobos sebuah kultur politik di mana sebuah partai politik dibangun dengan cara monarki "untuk anak mama atau untuk anak papa" (anak-anak elite parpol). Itu bisa diterobos dengan sistem ini atau dia akan mampu menerobos lagi ketika partai politik dikonstruksikan sebagai sebuah perusahaan, di mana partai politik menjadi kapital, ada pemegang saham mayoritas di situ, yang menentukan ke mana arahnya. Siapa yang didukung, putra-putra bangsa yang berangkat dari kaum pergerakan ini nggak dapat, dari mana saya maju untuk mengabdi pada bangsa dan negara kalau tidak dibuatkan pintu," jelasnya.
Padahal, kata Pasek, negara ini maju dan merdeka bukan karena sistem kapital dan sistem monarki tapi karena dibawa oleh kaum pergerakan, mereka berdiskusi melakukan aksi dan advokasi sehingga Indonesia merdeka, dari Perhimpunan Indonesia kemudian Sumpah Pemuda kemudian Indonesia merdeka. Tetapi hari ini ketika Indonesia sudah merdeka, kaum pergerakan tidak ada jalan untuk mendapatkan haknya untuk bisa mengabdi pada republik ini dalam sistem Presidential Threshold.
"DPR sekarang dan pemerintah sekarang untuk membuka ruang putra-putra bangsa yang lain, bisa menerobos jangan sampai lu lagi, lu lagi, anak lu, anak lu anak lu dan sebagainya, sehingga rakyat tidak punya pilihan. Ini saya kira agak sedikit nyeleneh tapi kita diskusikan ini, karena hak orang untuk jadi calon presiden kan harus dibuka ruang. Jangan ditutup serapat mungkin, ngapain buka aja, toh rakyat juga yang milih, kalau sudah kuat, infrastuktur kuat ngapain takut, kalau orangnya bagus, kualitasnya bagus ngapain takut," tantangnya. Baca juga: Berhasil Pimpin Jateng, Zulhas Nilai Ganjar Bisa Sukses di Level Nasional
"Kalau ingin meriah Pemilu 2024, toh Bapak Jokowi enggak maju, Bapak Kiai (Ma'ruf Amin) juga enggak maju. Ya sudah, ini saya kira bisa menjadi ruang baru, terobosan baru sehingga 2024 kita melihat pesta demokrasi yang meriah, bukan pesta demokrasi yang semata perebutan anak pangeran," pungkasnya.
"Dia mampu menerobos sebuah kultur politik di mana sebuah partai politik dibangun dengan cara monarki "untuk anak mama atau untuk anak papa" (anak-anak elite parpol). Itu bisa diterobos dengan sistem ini atau dia akan mampu menerobos lagi ketika partai politik dikonstruksikan sebagai sebuah perusahaan, di mana partai politik menjadi kapital, ada pemegang saham mayoritas di situ, yang menentukan ke mana arahnya. Siapa yang didukung, putra-putra bangsa yang berangkat dari kaum pergerakan ini nggak dapat, dari mana saya maju untuk mengabdi pada bangsa dan negara kalau tidak dibuatkan pintu," jelasnya.
Padahal, kata Pasek, negara ini maju dan merdeka bukan karena sistem kapital dan sistem monarki tapi karena dibawa oleh kaum pergerakan, mereka berdiskusi melakukan aksi dan advokasi sehingga Indonesia merdeka, dari Perhimpunan Indonesia kemudian Sumpah Pemuda kemudian Indonesia merdeka. Tetapi hari ini ketika Indonesia sudah merdeka, kaum pergerakan tidak ada jalan untuk mendapatkan haknya untuk bisa mengabdi pada republik ini dalam sistem Presidential Threshold.
"DPR sekarang dan pemerintah sekarang untuk membuka ruang putra-putra bangsa yang lain, bisa menerobos jangan sampai lu lagi, lu lagi, anak lu, anak lu anak lu dan sebagainya, sehingga rakyat tidak punya pilihan. Ini saya kira agak sedikit nyeleneh tapi kita diskusikan ini, karena hak orang untuk jadi calon presiden kan harus dibuka ruang. Jangan ditutup serapat mungkin, ngapain buka aja, toh rakyat juga yang milih, kalau sudah kuat, infrastuktur kuat ngapain takut, kalau orangnya bagus, kualitasnya bagus ngapain takut," tantangnya. Baca juga: Berhasil Pimpin Jateng, Zulhas Nilai Ganjar Bisa Sukses di Level Nasional
"Kalau ingin meriah Pemilu 2024, toh Bapak Jokowi enggak maju, Bapak Kiai (Ma'ruf Amin) juga enggak maju. Ya sudah, ini saya kira bisa menjadi ruang baru, terobosan baru sehingga 2024 kita melihat pesta demokrasi yang meriah, bukan pesta demokrasi yang semata perebutan anak pangeran," pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :