Terkait Pengelolaan Hutan, Indonesia Diharapkan Terus Fokus
Kamis, 04 November 2021 - 14:18 WIB
loading...
Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Pernyataan Menteri Iklim dan Lingkungan Internasional Inggris, Zac Goldsmith tentang zero deforestation dan COP26 Forest Agreement menyesatkan (misleading).
Baca juga: Jokowi Serukan Pengelolaan Hutan yang Berkelanjutan di FOLU Summit COP26
Karena COP26 sedang berjalan sehingga tentu saja belum ada agreement apapun yang dihasilkan pada Selasa 2 November lalu. Hal ini dikatakan Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, ketika dimintai tanggapannya, Kamis (4/11/2021).
Baca juga: Pendaki U-Forty Berharap Hutan Kota Pekanbaru Jadi Tempat Wisata Edukasi
"Sedangkan pertemuan yang dilakukan 2 November di London adalah Leaders Meeting on Forrest and Land Use yang menghasilkan deklarasi. Dalam deklarasi yang dihasilkan itu sama sekali tidak ada terminologi ‘end deforestation by 2030’," kata Mahendra Siregar.
Karena itu dalam menyikapi pernyataan Goldsmith ini, lanjut Mahendra kita harus mawas diri, jangan lengah dan tidak boleh terpengaruh.
"Terus fokus dalam pengelolaan hutan, seperti penegasan Presiden Jokowi dalam pidato pembukaan COP26 maupun di Leaders Meeting tanggal 2 November itu. Apalagi yang diungkapkan Presiden Jokowi tentang upaya dan pengelolaan hutan kita diapresiasi banyak negara karena memberikan hasil konkret," jelasnya.
Mahendra melihat, Indonesia, negara yang mencapai kemajuan terbesar dalam hal pencegahan karhutla dan deforestasi.
"Jadi ada fakta yang kontras. Kita berhasil mengelola hutan, sementara dibelahan lain termasuk negara-negara maju seperti AS, Australia, dan Eropa dilanda karhutla yang terbesar selama ini," ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pernyataan Golsmith melalui twitter pribadinya memantik polemik. Dalam twitternya tertanggal 2 November 2021 itu, dan kemudian juga banyak dikutip media, Goldsmith menyinggung seakan-akan ada COP-26 Forest Agreement tanggal 2 November itu, yang sebenarnya tidak ada sama sekali.
Sehingga pernyataan Golsmith yang dijadikan pegangan dan dikutip banyak media juga salah. Di lain pihak, forum leaders meeting "Forests Agriculture Commodity Trade (FACT)" itu sebenarnya pertemuan di luar pertemuan resmi COP-26.
Pertemuan itu diselenggarakan untuk memanfaatkan kehadiran para pemimpin dunia di Glasgow, sehingga dibuat forum itu. Forum tersebut menyepakati suatu deklarasi yang menyebutkan upaya menghentikan forest lost.
"Mendorong pemulihan hutan 2030 yang untuk Indonesia penerapannya telah dilaksanakan selama ini dalam bentuk sustainable forest management yang dijabarkan Presiden Jokowi dalam Leaders Meeting itu," ungkapnya.
"Presiden menyampaikan bahwa kebijakan Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat deforestasi terendah selama 20 tahun terakhir, dan kebakaran hutan turun 82 persen," tutupnya.
Baca juga: Jokowi Serukan Pengelolaan Hutan yang Berkelanjutan di FOLU Summit COP26
Karena COP26 sedang berjalan sehingga tentu saja belum ada agreement apapun yang dihasilkan pada Selasa 2 November lalu. Hal ini dikatakan Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, ketika dimintai tanggapannya, Kamis (4/11/2021).
Baca juga: Pendaki U-Forty Berharap Hutan Kota Pekanbaru Jadi Tempat Wisata Edukasi
"Sedangkan pertemuan yang dilakukan 2 November di London adalah Leaders Meeting on Forrest and Land Use yang menghasilkan deklarasi. Dalam deklarasi yang dihasilkan itu sama sekali tidak ada terminologi ‘end deforestation by 2030’," kata Mahendra Siregar.
Karena itu dalam menyikapi pernyataan Goldsmith ini, lanjut Mahendra kita harus mawas diri, jangan lengah dan tidak boleh terpengaruh.
"Terus fokus dalam pengelolaan hutan, seperti penegasan Presiden Jokowi dalam pidato pembukaan COP26 maupun di Leaders Meeting tanggal 2 November itu. Apalagi yang diungkapkan Presiden Jokowi tentang upaya dan pengelolaan hutan kita diapresiasi banyak negara karena memberikan hasil konkret," jelasnya.
Mahendra melihat, Indonesia, negara yang mencapai kemajuan terbesar dalam hal pencegahan karhutla dan deforestasi.
"Jadi ada fakta yang kontras. Kita berhasil mengelola hutan, sementara dibelahan lain termasuk negara-negara maju seperti AS, Australia, dan Eropa dilanda karhutla yang terbesar selama ini," ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pernyataan Golsmith melalui twitter pribadinya memantik polemik. Dalam twitternya tertanggal 2 November 2021 itu, dan kemudian juga banyak dikutip media, Goldsmith menyinggung seakan-akan ada COP-26 Forest Agreement tanggal 2 November itu, yang sebenarnya tidak ada sama sekali.
Sehingga pernyataan Golsmith yang dijadikan pegangan dan dikutip banyak media juga salah. Di lain pihak, forum leaders meeting "Forests Agriculture Commodity Trade (FACT)" itu sebenarnya pertemuan di luar pertemuan resmi COP-26.
Pertemuan itu diselenggarakan untuk memanfaatkan kehadiran para pemimpin dunia di Glasgow, sehingga dibuat forum itu. Forum tersebut menyepakati suatu deklarasi yang menyebutkan upaya menghentikan forest lost.
"Mendorong pemulihan hutan 2030 yang untuk Indonesia penerapannya telah dilaksanakan selama ini dalam bentuk sustainable forest management yang dijabarkan Presiden Jokowi dalam Leaders Meeting itu," ungkapnya.
"Presiden menyampaikan bahwa kebijakan Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat deforestasi terendah selama 20 tahun terakhir, dan kebakaran hutan turun 82 persen," tutupnya.
(maf)
Lihat Juga :