Karya Trimatra Seniman Muda Salihara
Selasa, 02 November 2021 - 05:17 WIB
loading...
A
A
A
Setelah melalui perjalanan panjang—sejak memenangi Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2019, ketiga perupa ini memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi masa kini, kondisi sosial budaya, dan lingkungan tempat mereka tinggal, memberi pengaruh luas pada kelahiran karya-karya mereka. Hal ini segera bisa kita lihat pada karya-karya Andrita Yuniza, yang secara khusus punya perhatian terhadap masalah lingkungan.
baca juga: Peran dan Potensi Seni Rupa dalam Ekonomi Kreatif saat Pandemi
Dalam karya-karyanya pada sebuah kotak berlampu, Andrita menampilkan pelbagai sampah organik, yang telah mengalami transformasi bentuk simbol-simbol, dan yang lain dalam bentuk lembaran. Karya-karya tersebut tersebab oleh dirinya sendiri menghadirkan warna-warna yang menarik.
Dalam salah satu karyanya juga, Andrita akan mentransfer suara-suara dan rupa yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Karya ini pengembangan dari gagasan sebelumnya berjudul “Mooi Indie”, pertanyaan atas keindahan lanskap tanah Jawa yang bisa jadi tak lagi sepenuhnya sebagaimana digambarkan dalam lukisan masa kolonial itu.
Andrita dalam karyanya mengambil sampel air dari Sungai Citarum dan Citarik, menemukan bahwa air sungai tersebut telah memiliki corak dari campuran fosfat (jingga), nitrat (kuning), kromium (hijau), dan zat kimia hasil limbah industri tekstil.
baca juga: Menparekraf Sandiaga Apresiasi Ajang Pameran Seni Siswa Difabel
Berikutnya, pada karya-karya Wildan Indra Sugara juga tak jauh dari upaya merekrut sampah-sampah industri yang, ditemukannya baik di Jerman maupun di Indonesia. Berbeda dengan Andrita yang mengolah materi sampah hingga pada bentuknya yang canggih, Wildan membiarkan saja sampah itu sebagaimana adanya. Sampah-sampah itu punya warna, punya riwayat, dan kelak akan mengalami proses kehancuran pada dirinya sendiri. Dengan itu, Wildan mengekstremkan gagasannya dengan langsung menghadirkan kekonkretan.
baca juga: Peran dan Potensi Seni Rupa dalam Ekonomi Kreatif saat Pandemi
Dalam karya-karyanya pada sebuah kotak berlampu, Andrita menampilkan pelbagai sampah organik, yang telah mengalami transformasi bentuk simbol-simbol, dan yang lain dalam bentuk lembaran. Karya-karya tersebut tersebab oleh dirinya sendiri menghadirkan warna-warna yang menarik.
Dalam salah satu karyanya juga, Andrita akan mentransfer suara-suara dan rupa yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Karya ini pengembangan dari gagasan sebelumnya berjudul “Mooi Indie”, pertanyaan atas keindahan lanskap tanah Jawa yang bisa jadi tak lagi sepenuhnya sebagaimana digambarkan dalam lukisan masa kolonial itu.
Andrita dalam karyanya mengambil sampel air dari Sungai Citarum dan Citarik, menemukan bahwa air sungai tersebut telah memiliki corak dari campuran fosfat (jingga), nitrat (kuning), kromium (hijau), dan zat kimia hasil limbah industri tekstil.
baca juga: Menparekraf Sandiaga Apresiasi Ajang Pameran Seni Siswa Difabel
Berikutnya, pada karya-karya Wildan Indra Sugara juga tak jauh dari upaya merekrut sampah-sampah industri yang, ditemukannya baik di Jerman maupun di Indonesia. Berbeda dengan Andrita yang mengolah materi sampah hingga pada bentuknya yang canggih, Wildan membiarkan saja sampah itu sebagaimana adanya. Sampah-sampah itu punya warna, punya riwayat, dan kelak akan mengalami proses kehancuran pada dirinya sendiri. Dengan itu, Wildan mengekstremkan gagasannya dengan langsung menghadirkan kekonkretan.
Lihat Juga :