Kepala BNPB: Investasi PRB Minimalisir Dampak Potensi Ancaman Bencana
Selasa, 19 Oktober 2021 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, investasi Iptek. Menurut Ganip, investasi Iptek dilakukan dengan menciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana serta melakukan kajian yang dapat mendukung aktivitas PRB.
"Investasi Iptek ini dapat pula diartikan sebagai kontribusi pemikiran dan teknologi yang tepat oleh para akademisi, pakar, dan peneliti," sebutnya.
Terakhir adalah investasi keuangan, yaitu investasi yang dikeluarkan untuk pengurangan risiko bencana sehingga dapat menyelamatkan aset yang bernilai lebih besar, baik anggaran untuk implementasi program maupun melalui asurasi bencana.
Berkaitan dengan itu, Ganip mengatakan manajemen bencana sudah seharusnya menjadi satu kesatuan yang terintegrasi, baik sebelum, saat terjadi, dan pasca terjadi bencana. Manajemen bencana mulai dari pencegahan dan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan harus menjadi siklus yang terkelola dengan baik melalui upaya dan dukungan semua pihak.
"Bapak Presiden dalam setiap kesempatan selalu menyatakan bahwa penanggulangan bencana harus mengedapankan aspek pencegahan. Jangan sampai kita hanya bersifat reaktif saat bencana terjadi," tegasnya.
Keinginan Presiden itu, kata Ganip seperti pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Artinya, upaya pengurangan risiko pada kondisi pra-bencana, harus menjadi tulang punggung upaya penanggulangan bencana.
Di BNPB, pihaknya membagi klaster kebencanaan menjadi 4, yaitu pertama, geologi dan vulkanologi yang meliputi letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi.
"Investasi Iptek ini dapat pula diartikan sebagai kontribusi pemikiran dan teknologi yang tepat oleh para akademisi, pakar, dan peneliti," sebutnya.
Terakhir adalah investasi keuangan, yaitu investasi yang dikeluarkan untuk pengurangan risiko bencana sehingga dapat menyelamatkan aset yang bernilai lebih besar, baik anggaran untuk implementasi program maupun melalui asurasi bencana.
Berkaitan dengan itu, Ganip mengatakan manajemen bencana sudah seharusnya menjadi satu kesatuan yang terintegrasi, baik sebelum, saat terjadi, dan pasca terjadi bencana. Manajemen bencana mulai dari pencegahan dan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan harus menjadi siklus yang terkelola dengan baik melalui upaya dan dukungan semua pihak.
"Bapak Presiden dalam setiap kesempatan selalu menyatakan bahwa penanggulangan bencana harus mengedapankan aspek pencegahan. Jangan sampai kita hanya bersifat reaktif saat bencana terjadi," tegasnya.
Keinginan Presiden itu, kata Ganip seperti pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Artinya, upaya pengurangan risiko pada kondisi pra-bencana, harus menjadi tulang punggung upaya penanggulangan bencana.
Di BNPB, pihaknya membagi klaster kebencanaan menjadi 4, yaitu pertama, geologi dan vulkanologi yang meliputi letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi.
Lihat Juga :