Kepala BNPB: Investasi PRB Minimalisir Dampak Potensi Ancaman Bencana
Selasa, 19 Oktober 2021 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: BNPB: 95% Bencana di Indonesia adalah Bencana Hidrometeorologi
Kedua, hidro meteorologi kering, meliputi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Ketiga, hidro meteorologi basah, meliputi banjir, banjir bandang, longsor, abrasi pantai, gelombang ekstrem, angin puting beliung, serta siklon tropis,
Keempat, bencana non alam, meliputi pencemaran limbah, land subsidence, epidemi/pandemi, dan kegagalan teknologi. "Pada kesempatan kali ini saya hanya menyinggung satu bencana non alam yang sama-sama sedang kita rasakan saat ini, yaitu pandemi Covid-19," ucap Ganip yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19.
Dia mengungkapkan, sejak awal kemunculannya, Covid-19 sudah menginfeksi 240 juta orang lebih di seluruh dunia. Hingga saat ini, Indonesia masih berjuang melawan Covid-19 dan perlu dilakukan sinergi bersama, untuk mengendalikan pandemi Covid-19.
Ganip mengaku bersyukur pandemi Covid-19 telah menurun drastis dan penanganan yang dilakukan pemerintah Indonesia telah mendapat pengakuan dari internasional. "Berdasarkan level asesmen dari Kementerian Kesehatan dengan mengikuti standar WHO, Indonesia kini berada pada level 2, dengan transmisi komunitas berada pada tingkat 1 dan kapasitas respon sedang," ungkapnya.
Meskipun saat ini kondisi pandemi relatif terkendali, Ganip mengajak semua pihak tidak lengah dan terbuai. "Tidak boleh lengah dan harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M dan mengikuti program vaksinasi," pesannya.
Kuliah umum kebencanaan ini merupakan rangkaian kegiatan dari peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2021. Acara dihadiri Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail, Ketua DPRD Maluku Lucky Wattimury, Rektor IAIN Ambon Zainal Abidin Rahawarin, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Maluku, serta para peserta seminar.
Kedua, hidro meteorologi kering, meliputi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Ketiga, hidro meteorologi basah, meliputi banjir, banjir bandang, longsor, abrasi pantai, gelombang ekstrem, angin puting beliung, serta siklon tropis,
Keempat, bencana non alam, meliputi pencemaran limbah, land subsidence, epidemi/pandemi, dan kegagalan teknologi. "Pada kesempatan kali ini saya hanya menyinggung satu bencana non alam yang sama-sama sedang kita rasakan saat ini, yaitu pandemi Covid-19," ucap Ganip yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19.
Dia mengungkapkan, sejak awal kemunculannya, Covid-19 sudah menginfeksi 240 juta orang lebih di seluruh dunia. Hingga saat ini, Indonesia masih berjuang melawan Covid-19 dan perlu dilakukan sinergi bersama, untuk mengendalikan pandemi Covid-19.
Ganip mengaku bersyukur pandemi Covid-19 telah menurun drastis dan penanganan yang dilakukan pemerintah Indonesia telah mendapat pengakuan dari internasional. "Berdasarkan level asesmen dari Kementerian Kesehatan dengan mengikuti standar WHO, Indonesia kini berada pada level 2, dengan transmisi komunitas berada pada tingkat 1 dan kapasitas respon sedang," ungkapnya.
Meskipun saat ini kondisi pandemi relatif terkendali, Ganip mengajak semua pihak tidak lengah dan terbuai. "Tidak boleh lengah dan harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M dan mengikuti program vaksinasi," pesannya.
Kuliah umum kebencanaan ini merupakan rangkaian kegiatan dari peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2021. Acara dihadiri Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail, Ketua DPRD Maluku Lucky Wattimury, Rektor IAIN Ambon Zainal Abidin Rahawarin, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Maluku, serta para peserta seminar.
(thm)
Lihat Juga :