Pakar UNICEF: Angka Kekurangan Gizi Anak Berisiko Meningkat Akibat COVID-19
Rabu, 03 Juni 2020 - 13:25 WIB
loading...
A
A
A
“Pandemi ini sebetulnya untuk kenaikan angka-angka tersebut itu sangat memungkinkan, sangat-sangat tinggi ya. Jadi misalnya, karena Posyandu beberapa waktu kita tahu tidak ada, atau terjadi destrupsi. Maka ini sangat berisiko tinggi untuk anak-anak balita tersebut keadaan gizinya menjadi turun. Dan itu yang sangat menghawatirkan kami di UNICEF,” jelas Sri.
Sri pun menjelaskan saat ini UNICEF membantu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menstabilkan angka-angka tersebut dengan membuat pedoman pelayanan gizi di masa pandemi serta pada masa New Normal yang akan segera diberlakukan.
“Sehingga UNICEF pun saat ini membantu Kemenkes dalam membuat pedoman pelayanan gizi pada masa pandemi dan pada masa New Normal. Jadi, bagaimana memastikan anak-anak di daerah itu bisa mendapatkan haknya untuk mendapatkan gizi yang terbaik,” kata Sri.
Jadi UNICEF, lanjut Sri, membantu Kemenkes untuk berbagai macam pedoman dan memberikan bantuan teknis Bidan di daerah misalnya untuk memberikan layanan langsung ke masyarakat. Dimana sebelum pandemi konseling secara langsung kini bisa menggunakan konseling secara virtual. (Baca juga: Pimpinan DPR Usulkan Sekolah Daring dengan Pola Normal)
“Misalnya karena Posyandu tidak jalan, jadi kami memberikan bantuan teknis untuk bidan-bidan desa bisa melakukan konseling. Bagaimana melakukan konselingnya misalnya konselingnya jarak satu meter. Kemudian kalau misalnya kita sebelumnya pakai toa atau surat edaran, kita pakai WhatsApp aja nih. Jadi kita bisa memberikan konseling secara virtual tapi kalau sudah ada parah, baru kita melakukan kunjungan,” papar Sri.
Sri pun menjelaskan saat ini UNICEF membantu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menstabilkan angka-angka tersebut dengan membuat pedoman pelayanan gizi di masa pandemi serta pada masa New Normal yang akan segera diberlakukan.
“Sehingga UNICEF pun saat ini membantu Kemenkes dalam membuat pedoman pelayanan gizi pada masa pandemi dan pada masa New Normal. Jadi, bagaimana memastikan anak-anak di daerah itu bisa mendapatkan haknya untuk mendapatkan gizi yang terbaik,” kata Sri.
Jadi UNICEF, lanjut Sri, membantu Kemenkes untuk berbagai macam pedoman dan memberikan bantuan teknis Bidan di daerah misalnya untuk memberikan layanan langsung ke masyarakat. Dimana sebelum pandemi konseling secara langsung kini bisa menggunakan konseling secara virtual. (Baca juga: Pimpinan DPR Usulkan Sekolah Daring dengan Pola Normal)
“Misalnya karena Posyandu tidak jalan, jadi kami memberikan bantuan teknis untuk bidan-bidan desa bisa melakukan konseling. Bagaimana melakukan konselingnya misalnya konselingnya jarak satu meter. Kemudian kalau misalnya kita sebelumnya pakai toa atau surat edaran, kita pakai WhatsApp aja nih. Jadi kita bisa memberikan konseling secara virtual tapi kalau sudah ada parah, baru kita melakukan kunjungan,” papar Sri.
(kri)
Lihat Juga :