Cerita Jean Walters, Molly Bondan, dan J Edgar: 3 Perempuan Australia Pendukung Kemerdekaan RI

Selasa, 28 September 2021 - 06:46 WIB
loading...
A A A
Julius Tahija menikahi Jean Walters di Wesley Church di Lonsdale Street, Melbourne. Dia sudah menjadi Menteri Penerangan di Negara Indonesia Timur, tak lama setelah memutuskan berhenti menjadi ajudan Letjen Simon Hendrik Spoor, Kepala Staf KNIL saat itu. Pada 1947 Jean Walters pun menyusul Tahija ke Macassar (Makassar), Ibu Kota Negara Indonesia Timur.

Mengenang masa revolusi Indonesia, Jean Walters merasa pemikirannya tentang kemerdekaan Indonesia lebih progresif dari Julius Tahija. "Aku menjadi pendukung setia kemerdekaan Indonesia, mungkin lebih keras daripada Julius Tahija. Dia sudah banyak menderita di bawah kekuasaan Belanda, sehingga aku terbawa untuk membenci Belanda."

"Aku berpikir bahwa rakyat Indonesia lebih baik untuk mengurus negerinya sendiri," kata Jean, sebelum dia memutuskan untuk mengikuti acara-acara pro kemerdekaan Indonesia yang sering diadakan di Melbourne.

Kisah Molly Bondan dan Jean Edgar

Molly Bondan dilahirkan 9 Januari 1912 di Auckland, Selandia Baru. Sebelum beremigrasi ke Australia, orang tua Molly merupakan warga negara Inggris, demikian disebut George McTurnan Kahin, Indonesianis terkemuka dari Cornell University, Ithaca, New York.

Molly Warner, nama asli Molly Bondan, bekerja sebagai jurnalis dengan rasa simpati yang besar terhadap pergerakan Indonesia kala itu. Menurut Rino mengutip biografi Jean Walters, Molly Bondan menjadi semakin keras semenjak berjumpa dengan Mohammad Bondan.

Molly malah sering terjun ke demonstrasi jalanan para simpatisan pro-kemerdekaan Indonesia di Australia. McTurnan Kahin mengenang, Mohammad Bondan yang eks tawanan politik di Boven Digoel, merupakan kawan dan pengikut setia Mohammad Hatta.

Bersama Hatta, Bondan ditangkap dan dipenjarakan di pedalaman Digoel, Papua. Nasib beruntung bagi Hatta, dia dipindahkan ke Banda Neira bersama Sjahrir pada 1938. Tetapi tidak bagi Bondan, dia tetap berada di sana sampai 1943.

Molly Bondan kemudian mulai aktif di revolusi. Jean Walters mencatat, Molly Bondan mulai menulis selebaran-selebaran pro Republik dan melakukan siaran berbahasa Inggris di Radio Republik Indonesia.

Sementara itu berbeda dengan Molly Bondan dan Jean Walters, Jean Edgar tak pernah merasakan hidup di Indonesia. Jean Edgar memiliki rasa sosial yang tinggi, itulah mengapa dia mendatangi pertemuan pro-republik di Metropole Hotel, Melbourne.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2139 seconds (11.97#12.26)