Sekolah Tatap Muka dan Boleh Masuk Mal, Muhammadiyah: Lindungi Keselamatan Anak-anak

loading...
Sekolah Tatap Muka dan Boleh Masuk Mal, Muhammadiyah: Lindungi Keselamatan Anak-anak
Tokoh muda Muhammadiyah Defy Indiyanto Budiarto meminta pihak sekolah menyiapkan protokol kesehatan untuk anak didik untuk mencegah klaster baru Covid-19. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Pemerintah telah mengizinkan sekolah menggelar pembelajaran tatap muka, setelah sebelumnya dilarang sebagai upaya mencegah penularan Covid-19 . Selain itu, kini anak-anak juga sudah diperbolehkan untuk masuk ke dalam mal.

Tokoh muda Muhammadiyah Defy Indiyanto Budiarto mengatakan, pemerintah telah memutuskan untuk membuka sekolah tatap muka. Karena itu, hal yang penting dilakukan agar menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat ketika anak berada di lingkungan sekolah.

"Pihak sekolah, baik kepala sekolah, guru harus menyiapkan prokes sebaik mungkin untuk anak didik. Bahkan Dinas Pendidikan di tiap-tiap daerah perlu untuk membuat regulasi apa-apa yang harus dilakukan pihak sekolah maupun orangtua siswa untuk mencegah terjadinya klaster baru di lingkungan sekolah setelah diterapkannya sekolah tatap muka. Jangan sampai semangat anak didik untuk bisa mengikuti pembelajaran tatap muka kendor karena terjadi klaster Sekolah" tutur Defy, Kamis (23/9/2021). Baca juga: PTM Berjalan Lancar, Disdik DKI Rencanakan Sekolah Buka Setiap Hari

Hal-hal yang perlu disiapkan di lingkungan sekolah, kata Defy, misalnya ketersediaan air dan tempat cuci tangan yang cukup. "Ini penting agar semua siswa, guru dan orang yang akan masuk ke halaman sekolah benar-benar sudah cuci tangan dengan sabun, pakai masker sejak keluar rumah, membawa hand sanitizer termasuk memberikan toleransi kepada siswa apabila kondisi kesehatannya menurun, kurang sehat untuk tidak mengikuti pembelajaran tatap muka," urainya. Baca juga: Jokowi Larang Sekolah di Daerah PPKM Level 4 Gelar PTM



Defy juga berpesan agar pihak sekolah selalu memantau siswa yang telah diberikan vaksinasi untuk mendukung program vaksinasi. "Pihak sekolah juga perlu mengingatkan kepada anak didiknya untuk taat melaksanakan protokol kesehatan agar pembelajaran tatap muka dapat berlangsung terus," tuturnya.

Selain itu, kata Defy, sekolah juga harus membuka diri untuk menerima masukan dari masyarakat, termasuk orangtua siswa yang sifatnya mendukung terwujudnya herd immunity di lingkungan sekolah. Di sisi lain, Defy juga mengkritisi keputusan pemerintah yang diizinkan masuk mal meskipun belum divaksin. Menurut Defy, berbeda dengan belajar, kebutuhan anak-anak untuk masuk mal sebenarnya bukan sesuatu yang sangat mendesak. Karena itu, sebaiknya aktivitas anak di luar rumah tetap dibatasi setelah diberlakukannya sekolah tatap muka.

"Ingat bahwa pandemi ini belum benar-benar berakhir. Memang angkanya mereda dan kita harapkan terus menurun, tapi bukan berarti sudah hilang sehingga perlu bagi kita untuk tetap waspada. Mari lindungi anak-anak kita dari bahaya Covid-19," katanya.

Apalagi, kata Defy, berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sebanyak 3.830 yang terpapar Covid-19 terpantau masih berkeliaran di mal. Hal itu diketahui dari hasil pemantauan aplikasi PeduliLindungi. "Banyangin 3.000 lebih orang positif jalan-jalan ke mal. Aplikasi PeduliLindungi ini tidak bisa mencegah orang yang positif Covid masuk ke mal," katanya.
(cip)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top