Aktivis Gender Sebut Praktik Feminisme Sudah Ada di Zaman Nabi
Minggu, 19 September 2021 - 08:31 WIB
loading...
A
A
A
Praktik feminisme lainnya yakni masalah waris. Ia menjelaskan pada masa Arab Jahiliyyah, perempuan dianggap sebagai sesuatu yang bisa diwariskan. Namuan ketika Islam datang, perempuan tidak hanya bisa menerima waris, juga dapat memberi harta waris. "Ini merupakan reformasi yang sangat progresif pada masanya," katanya.
Baca juga: Pengukuran Data Sangat Penting dalam Mendukung Kesetaraan Gender
Lalu praktik feminisme berikutnya adalah monogami. Nina mengatakan pada masa Arab Jahiliyah juga belum ada pembatasan memperistri. Ketika Islam datang, terjadi pembatasan dengan maksimal empat istri.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 3, "Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga, atau empat". "Ayat ini pun masih dibaca setengah-setengah oleh beberapa kalangan. Mereka mengabaikan fawaakhidatan (satu perempuan)," katanya.
Widya Michella
Baca juga: Pengukuran Data Sangat Penting dalam Mendukung Kesetaraan Gender
Lalu praktik feminisme berikutnya adalah monogami. Nina mengatakan pada masa Arab Jahiliyah juga belum ada pembatasan memperistri. Ketika Islam datang, terjadi pembatasan dengan maksimal empat istri.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 3, "Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga, atau empat". "Ayat ini pun masih dibaca setengah-setengah oleh beberapa kalangan. Mereka mengabaikan fawaakhidatan (satu perempuan)," katanya.
Widya Michella
(abd)
Lihat Juga :