Waspada Cuaca Ekstrem Sepekan Ke Depan, Kepala BMKG Ungkap Penyebabnya

loading...
Waspada Cuaca Ekstrem Sepekan Ke Depan, Kepala BMKG Ungkap Penyebabnya
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan penyebab terjadinya cuaca ekstrem di Indonesia. Foto/Dok.SINDOnews
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan potensi terjadi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan di wilayah Indonesia terutama Pulau Jawa dan Sumatra. Potensi terjadi cuaca ekstrem itu tidak hanya di wilayah Jabodetabek.

“Sebetulnya tidak hanya di Jakarta atau juga Jabodetabek, tetapi juga Banten kemudian sebagian Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Dan sebetulnya di Sumatra seperti di Jambi, Riau, Sumatra Selatan, dan Lampung juga berpotensi harus diwaspadai,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya, dikutip dari media sosial resmi BMKG , Kamis (16/9/2021).

Dwikorita pun mengungkapkan penyebab terjadinya cuaca ekstrem di Indonesia. “Hal ini dipengaruhi oleh adanya fenomena Madden Julian Oscillation. Dan gelombang di ekuator yang terjadi akibat adanya perbedaan tekanan antara Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik dan kepulauan Indonesia,” katanya.

“Sehingga terjadilah pergerakan awan-awan kumpulan, awan-awan hujan dari Samudra Hindia menuju ke Samudra Pasifik melintasi kepulauan Indonesia dan selama kurang lebih dari 1 minggu ini awan-awan tersebut sudah memasuki wilayah Indonesia terutama di bagian barat, nanti bergerak ke tengah dan akhirnya menuju ke timur dan meninggalkan Indonesia,” papar Dwikorita.



Baca juga: Cerita Suroto Bertemu Jokowi di Istana: Saya Minta Maaf, Beliau Berterima Kasih

Dwikorita mengingatkan agar masyarakat Indonesia waspada terhadap potensi hujan sepekan ke depan. “Jadi diprediksi dalam sepekan ini wilayah Indonesia akan mengalami peningkatan intensitas hujan khususnya. Dan khususnya untuk hari ini atau 3 hari kedepan adalah di wilayah yang kami sebutkan,” ujarnya.

Meskipun begitu, Dwikorita mengatakan intensitas hujan yang BMKG prediksi tidak berlangsung lama. “Artinya durasinya tidak lama, tidak seperti banjir Jabodetabek awal tahun 2020 itu kan durasinya beberapa jam. Kalau saat ini karena masa pancaroba, transisi dari musim kemarau ke musim hujan jadi durasinya tidak berlangsung lama, tapi intensitasnya tinggi,” paparnya.

Namun, kata Dwikorita, untuk wilayah-wilayah yang memiliki kemiringan cukup signifikan atau curam berpotensi untuk mengalami longsor. “Dan juga wilayah-wilayah dekat bantaran sungai ataupun cekungan yang lahannya sudah mengalami penurunan daya resap air berpotensi untuk mengalami banjir. Meskipun tidak separah yang pernah terjadi di bulan Januari tahun 2020 yang lalu,” pungkasnya.
(rca)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top