Ini 5 Rekomendasi dari Pengamat Intelijen untuk Menutup Ruang Terorisme
Selasa, 31 Agustus 2021 - 15:23 WIB
loading...
A
A
A
”Kedua, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemendikbudristek perlu menjadi aktor utama dalam pencegahan arus intoleransi dan radikalisasi di institusi pendidikan, organisasi masyarakat, dan khususnya perempuan Indonesia. Jangan hanya berfokus penanggulangan. Dalam konsepsi pemberantasan kedua hal tersebut harus kuat,” ujarnya. Baca juga: Pengamat Sarankan TNI Buat Regulasi Penggunaan Medsos untuk Prajurit dan Keluarganya
Rekomendasi ketiga yakni, seluruh stakeholders khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), perlu meningkatkan upaya-upaya internalisasi terhadap keadilan dan kesetaraan gender kepada kaum perempuan melalui institusi kementerian/lembaga/badan, pemerintah daerah, organisasi keagamaan, dan komunitas- komunitas sosial kemasyarakatan.
”Keempat, civil society, khususnya organisasi keagamaan moderat seperti NU, Muhammadiyah, dll, perlu memberbanyak narasi positif dan melakukan counter narasi radikalisme yang menyasar institusi pendidikan, anak muda dan perempuan melalui berbagai medium untuk menutup ruang narasi intoleransi dan radikalisme,” ucapnya.
Terakhir, sambung Nuning, pembatasan di media sosial bukanlah hal yang efektif tangkal narasi radikalisme, yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan literasi di media sosial pada masyarakat Indonesia. ”Jadi bukan hanya sekedar baca –tulis, namun mampu bernalar untuk merespons propaganda radikalisme,” tegasnya.
Rekomendasi ketiga yakni, seluruh stakeholders khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), perlu meningkatkan upaya-upaya internalisasi terhadap keadilan dan kesetaraan gender kepada kaum perempuan melalui institusi kementerian/lembaga/badan, pemerintah daerah, organisasi keagamaan, dan komunitas- komunitas sosial kemasyarakatan.
”Keempat, civil society, khususnya organisasi keagamaan moderat seperti NU, Muhammadiyah, dll, perlu memberbanyak narasi positif dan melakukan counter narasi radikalisme yang menyasar institusi pendidikan, anak muda dan perempuan melalui berbagai medium untuk menutup ruang narasi intoleransi dan radikalisme,” ucapnya.
Terakhir, sambung Nuning, pembatasan di media sosial bukanlah hal yang efektif tangkal narasi radikalisme, yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan literasi di media sosial pada masyarakat Indonesia. ”Jadi bukan hanya sekedar baca –tulis, namun mampu bernalar untuk merespons propaganda radikalisme,” tegasnya.
(cip)
Lihat Juga :