Kemenkes Klaim Seluruh Provinsi di Indonesia Mampu Capai Target Testing COVID-19
Kamis, 19 Agustus 2021 - 16:00 WIB
loading...
Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan positivity rate dan testing rate adalah indikator penting dalam menilai status transmisi atau penularan COVID-19. Foto/BNPB
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) , Siti Nadia Tarmizi mengatakan positivity rate dan testing rate adalah indikator penting dalam menilai status transmisi atau penularan COVID-19 .
WHO pun merekomendasikan untuk suatu wilayah mampu melakukan testing minimal 1 orang per 1.000 penduduk per minggu untuk mengukur upaya surveilans yang dilakukan. Baca juga: Cegah Laju Infeksi Covid-19, Menkes Targetkan 300-400 Ribu Testing per Hari
“Pekan lalu, seluruh provinsi mampu mencapai testing rate yang ditetapkan. Walaupun begitu dengan kapasitas yang ada, sesuai dengan instruksi, kita mampu dan akan terus menargetkan testing mencapai 400.000 tes per hari,” ujar Nadia dalam keterangan yang diterima, Kamis (19/8/2021).
Dia menjelaskan upaya penemuan kasus dilakukan dengan memprioritaskan populasi yang berisiko tinggi untuk menularkan virus, yaitu pasien dengan kriteria suspek dan juga kontak erat.
Pembelajaran yang terjadi di Jawa dan Bali hendaknya menjadi kewaspadaan bagi provinsi-provinsi di luar Jawa dan Bali, terutama karena adanya varian baru. “Kita berharap dan terus berupaya untuk melokalisasi setiap wilayah yang berpotensi munculnya kluster-kluster dan penularan aktif,” paparnya.
WHO pun merekomendasikan untuk suatu wilayah mampu melakukan testing minimal 1 orang per 1.000 penduduk per minggu untuk mengukur upaya surveilans yang dilakukan. Baca juga: Cegah Laju Infeksi Covid-19, Menkes Targetkan 300-400 Ribu Testing per Hari
“Pekan lalu, seluruh provinsi mampu mencapai testing rate yang ditetapkan. Walaupun begitu dengan kapasitas yang ada, sesuai dengan instruksi, kita mampu dan akan terus menargetkan testing mencapai 400.000 tes per hari,” ujar Nadia dalam keterangan yang diterima, Kamis (19/8/2021).
Dia menjelaskan upaya penemuan kasus dilakukan dengan memprioritaskan populasi yang berisiko tinggi untuk menularkan virus, yaitu pasien dengan kriteria suspek dan juga kontak erat.
Pembelajaran yang terjadi di Jawa dan Bali hendaknya menjadi kewaspadaan bagi provinsi-provinsi di luar Jawa dan Bali, terutama karena adanya varian baru. “Kita berharap dan terus berupaya untuk melokalisasi setiap wilayah yang berpotensi munculnya kluster-kluster dan penularan aktif,” paparnya.
Lihat Juga :