Bahaisme
Jum'at, 13 Agustus 2021 - 12:38 WIB
loading...
A
A
A
Mirza Husain Ali mendeklarasikan dirinya sebagai Bahaullah (Sang Wajah Kebesaran Tuhan) yang menurut dia kedatangannya telah diramalkan oleh Bab sebelumnya. Di pihak lain saudara tirinya, Subhi Azal, menolak klaim kepemimpinan Bahaullah, akibatnya terjadi konflik sengit antara keduanya. Karena dikhawatirkan menimbulkan gangguan terhadap stabilitas keamanan, pemerintah Turki mengusir kaum Bahais ke Akka dan kelompok Azalis ke Famagusta di Cyprus. Kemudisn Bahaullah pindah lagi ke Mazra'a dan di tempat ini dia menulis "Kitab Aqdas" (Kitab Paling Suci) yang berisi paham kepercayaannya. Dia kemudian pindah ke Bahji dan di kota ini dia meninggal dunia pada 29 Mei 1892.
Pasca kematian Bahaullah, mayoritas kaum Bahais mengakui Abbas Effendi (terkenal dengan nama Abdul Baha') sebagai penafsir sah ajaran ayahnya. Saudara laki-laki Abdul Baha', Muhammad Ali, menyainginya dengan membentuk kelompok tandingan dalam tubuh organisasi Baha'i, akan tetapi dia tidak memperoleh banyak pendukung. Abdul Baha' adalah anak laki-laki tertua Bahaullah yang setia mendampingi ayahnya selama dalam hidup pengasingan. Abdul Baha' melakukan perjalanan bersejarah dengan mengunjungi Mesir (1910), Paris dan London (1911), dan Amerika dan Eropa (dari 1912 – 1913). Ketika melawat ke Amerika Serikat, dia mengunjungi New York, Los Angeles dan San Fransisco serta kota-kota penting lainnya seraya memberikan khotbah di berbagai gereja, sinagog, dan tempat-tempat lainnya. Tujuan utama misinya adalah untuk melawan propaganda yang dilancarkan oleh para pendukung saudara laki-lakinya (Muhammad Ali), memperkuat eksistensi masyarakat Baha'i di Amerika dan membentuk kelompok-kelompok masyarakat Baha'i di negara-negara Eropa. Abdul Baha' dipandang sebagai penyebar ajaran Baha'i di Amerika Serikat dan Eropa.
Ajaran Moral dan Sosial Bahaisme
Ajaran moral dan sosial Bahaisme telah diformulasi oleh Abdul Baha’ dan dapat disarikan sebagai berikut: (1) persatuan umat manusia; (2) perlunya suatu pencarian mandiri terhadap kebenaran; (3) kesatuan esensial agama; (4) perlunya bagi agama untuk mempromosikan persatuan; (5) perlunya keharmonisan antara ilmu pengetahuan dan agama; (6) persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita; (7) oposisi terhadap segala macam sikap dan tindakan buruk sangka, baik yang bersifat kebangsaan, agama, politik, ekonomi, dan sebagainya, (8) pencapaian perdamaian dunia; (9) Kewajiban untuk menyediakan sarana pendidikan yang bersifat universal dan terbuka bagi semua orang; (10) pemecahan yang didasarkan kepada agama terhadap masalah-masalah sosial, yang bertujuan untuk menghapus menumpuknya kekayaan yang berlebih-lebihan dan memberantas kemiskinan; dan (11) perlunya suatu undang-undang pengadilan internasional.
Bahaisme tidak memberikan aksentuasi yang jelas terhadap doktrin ketuhanan yang khas, akan tetapi mengarahkan perhatiannya kepada masalah moral dan sosial seperti kesatuan esensial agama. Bahaisme diterima dan berkembang di dunia Barat (Amerika Serikat dan Eropa), tetapi sudah lama terusir dari negeri asalnya, Iran, karena dinilai menyimpang dari ajaran Syi’ah Itsna Asyariyah (Syi’ah Duabelas Imam) yang menjadi paham pemerintah dan rakyat Iran. Di Indonesia yang dikenal sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia dan dikenal sebagai dominan muslim sunni (pengikut ahlussunnah wal jama’ah), Bahaisme tidak banyak penganut dan pengikut.
Pasca kematian Bahaullah, mayoritas kaum Bahais mengakui Abbas Effendi (terkenal dengan nama Abdul Baha') sebagai penafsir sah ajaran ayahnya. Saudara laki-laki Abdul Baha', Muhammad Ali, menyainginya dengan membentuk kelompok tandingan dalam tubuh organisasi Baha'i, akan tetapi dia tidak memperoleh banyak pendukung. Abdul Baha' adalah anak laki-laki tertua Bahaullah yang setia mendampingi ayahnya selama dalam hidup pengasingan. Abdul Baha' melakukan perjalanan bersejarah dengan mengunjungi Mesir (1910), Paris dan London (1911), dan Amerika dan Eropa (dari 1912 – 1913). Ketika melawat ke Amerika Serikat, dia mengunjungi New York, Los Angeles dan San Fransisco serta kota-kota penting lainnya seraya memberikan khotbah di berbagai gereja, sinagog, dan tempat-tempat lainnya. Tujuan utama misinya adalah untuk melawan propaganda yang dilancarkan oleh para pendukung saudara laki-lakinya (Muhammad Ali), memperkuat eksistensi masyarakat Baha'i di Amerika dan membentuk kelompok-kelompok masyarakat Baha'i di negara-negara Eropa. Abdul Baha' dipandang sebagai penyebar ajaran Baha'i di Amerika Serikat dan Eropa.
Ajaran Moral dan Sosial Bahaisme
Ajaran moral dan sosial Bahaisme telah diformulasi oleh Abdul Baha’ dan dapat disarikan sebagai berikut: (1) persatuan umat manusia; (2) perlunya suatu pencarian mandiri terhadap kebenaran; (3) kesatuan esensial agama; (4) perlunya bagi agama untuk mempromosikan persatuan; (5) perlunya keharmonisan antara ilmu pengetahuan dan agama; (6) persamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita; (7) oposisi terhadap segala macam sikap dan tindakan buruk sangka, baik yang bersifat kebangsaan, agama, politik, ekonomi, dan sebagainya, (8) pencapaian perdamaian dunia; (9) Kewajiban untuk menyediakan sarana pendidikan yang bersifat universal dan terbuka bagi semua orang; (10) pemecahan yang didasarkan kepada agama terhadap masalah-masalah sosial, yang bertujuan untuk menghapus menumpuknya kekayaan yang berlebih-lebihan dan memberantas kemiskinan; dan (11) perlunya suatu undang-undang pengadilan internasional.
Bahaisme tidak memberikan aksentuasi yang jelas terhadap doktrin ketuhanan yang khas, akan tetapi mengarahkan perhatiannya kepada masalah moral dan sosial seperti kesatuan esensial agama. Bahaisme diterima dan berkembang di dunia Barat (Amerika Serikat dan Eropa), tetapi sudah lama terusir dari negeri asalnya, Iran, karena dinilai menyimpang dari ajaran Syi’ah Itsna Asyariyah (Syi’ah Duabelas Imam) yang menjadi paham pemerintah dan rakyat Iran. Di Indonesia yang dikenal sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia dan dikenal sebagai dominan muslim sunni (pengikut ahlussunnah wal jama’ah), Bahaisme tidak banyak penganut dan pengikut.
(bmm)
Lihat Juga :