Angka Kematian Covid-19 Dihilangkan di Penilaian PPKM, Epidemiolog: Ini Berbahaya
Rabu, 11 Agustus 2021 - 22:09 WIB
loading...
Pakar Epidemiologi Universitas Grifftith Australia, Dicky Budiman menilai penghapusan angka kematian pada indikator penilaian penetapan level PPKM Covid-19 berbahaya. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pakar Epidemiologi Universitas Grifftith Australia, Dicky Budiman menilai penghapusan angka kematian pada indikator penilaian penetapan level PPKM Covid-19 berbahaya. Hal ini meskipun dilakukan dalam kurun waktu yang sebentar.
“Tentu walaupun lama atau sebentar, namanya penghapusan atau peniadaan angka kematian ini berbahaya,” kata Dicky Budiman saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (11/08/2021)
Dicky mengatakan indikator angka kematian merupakan indikator kunci dalam pengendalian pandemi untuk melihat performa dan intervensi pemerintah di hulu. Menurutnya performa pemerintah dapat dilihat sampai empat minggu kebelakang. “Keberhasilannya akan dilihat dari tingkat kematian itu dan itu berlaku untuk semua penyakit, kemudian angka kematian juga menjadi ukurannya tingkat keparahan dari situasi wabah di satu lokasi,” ujarnya. Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 30.625 Orang
Dicky menambahkan pentingnya data tersebut disampaikan ke publik karena hal tersebut merupakan bagian tata kelola pengendalian pandemi atau good governance. Menurutnya transparansi data dan manajemen data sangatlah penting. “Dengan keterbukaan ini membangun trust dari semua pihak bukan cuma masyarakat (Indonesia), termasuk dunia Internasional terhadap pengendalian pandemi di Indonesia,” imbuhnya
Lebih lanjut, indikator angka kematian dinilainya sebagai media dan bahan untuk strategi komunikasi risiko. Hal ini khususnya ditunjukan pada masyarakat. “Angka kematiankan menunjukan keparahan tadi, nah sehingga masyarakat harus menyadari itu dengan 5M nya,mendukung 3T mendukung juga program vaksinasi, jadi itu bagian dari strategi komunikasi resiko, ini ada karena indikator penilaian angka kematian itu,” lanjutnya. Baca juga: Satgas Keluarkan Aturan Lengkap Terbaru untuk Perjalanan Dalam Negeri
“Tentu walaupun lama atau sebentar, namanya penghapusan atau peniadaan angka kematian ini berbahaya,” kata Dicky Budiman saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (11/08/2021)
Dicky mengatakan indikator angka kematian merupakan indikator kunci dalam pengendalian pandemi untuk melihat performa dan intervensi pemerintah di hulu. Menurutnya performa pemerintah dapat dilihat sampai empat minggu kebelakang. “Keberhasilannya akan dilihat dari tingkat kematian itu dan itu berlaku untuk semua penyakit, kemudian angka kematian juga menjadi ukurannya tingkat keparahan dari situasi wabah di satu lokasi,” ujarnya. Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 30.625 Orang
Dicky menambahkan pentingnya data tersebut disampaikan ke publik karena hal tersebut merupakan bagian tata kelola pengendalian pandemi atau good governance. Menurutnya transparansi data dan manajemen data sangatlah penting. “Dengan keterbukaan ini membangun trust dari semua pihak bukan cuma masyarakat (Indonesia), termasuk dunia Internasional terhadap pengendalian pandemi di Indonesia,” imbuhnya
Lebih lanjut, indikator angka kematian dinilainya sebagai media dan bahan untuk strategi komunikasi risiko. Hal ini khususnya ditunjukan pada masyarakat. “Angka kematiankan menunjukan keparahan tadi, nah sehingga masyarakat harus menyadari itu dengan 5M nya,mendukung 3T mendukung juga program vaksinasi, jadi itu bagian dari strategi komunikasi resiko, ini ada karena indikator penilaian angka kematian itu,” lanjutnya. Baca juga: Satgas Keluarkan Aturan Lengkap Terbaru untuk Perjalanan Dalam Negeri
Lihat Juga :