Ngaji ke Gus Baha, Ahmad Muzani Dapat Pelajaran Berharga soal Politik
Rabu, 11 Agustus 2021 - 19:28 WIB
loading...
Ahmad Muzani bersilaturahmi ke kediaman Gus Baha, Pondok Pesantren Tahfidzul Quran LP3IA, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2021). Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani bersilaturahmi ke kediaman Kiai Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha . Tujuannya hanya satu, untuk ngaji.
Gus Baha menyampaikan, politik merupakan seni mengelola kepercayaan publik. Saat ini, produk-produk politik lebih baik dibandingkan dengan zaman dulu (kerajaan). Bila dulu raja-raja saling berperang hingga terjadi pertumpahan darah untuk mendapatkan kekuasan, dewasa ini ada pemilu sebagai produk politik yang memungkinkan terjadinya perlihan kekuasaan tanpa pertumpahan darah.
Gus Bahan menganggap metode ini lebih baik meskipun belum ideal. "Kalau kita melihat politik sebagai cara atau seni mengelola kekuasaan dengan cara yang lebih enak, lebih beradab. Jadi cara (politik sekarang) itu sudah membaik, dari yang sebelumnya," kata Gus Baha di kediamannya, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2021) kemarin.
Baca juga: Biografi dan Silsilah Gus Baha, Nasabnya Sampai kepada Brawijaya V
"Kan nggak kebayang dulu (misalnya) Timur Leste keluar dari Indonesia (mekanismenya) lewat duel (atau perang). Tapi kan (pada akhirnya) lewat politik, lewat jajak pendapat. Begitu juga pemilihan gubernur dan bupati," imbuh Gus Baha.
Sehingga, berpolitik yang dijalankan dewasa ini bisa dijalani dengan baik. Sebab, politik merupakan suatu hal yang substansial, karena berhubungan dengan kemaslahatan umat. Apabila politik tidak dijalankan dengan amanah, maka yang timbul adalah rasa saling menyalahkan dan curiga. Hal itu berimplikasi pada keterpurukan suatu bangsa. Ini penting agar kita tidak menjadi bangsa yang hanya bisa saling menyalahkan.
"Jadi politik itu kembali ke kemaslahatan publik. Istilahnya kamu punya kamar seribu, yang dipakai tidur cuma satu kamar. Kalau punya beras satu ton, yang kamu makan hanya satu liter. Artinya apa, artinya kebutuhannya adalah sama-sama satu piring. Karena kalau proses politik itu tidak dianggap lebih baik atau membaik (sekarang ini), semua orang akan merasa salah terus dan akan saling menyalahkan. Jadi bangsa yang nggak punya ide untuk bikin rumus-rumus (kebijakan yang lebih) baik," papar Gus Baha.
Gus Baha menyampaikan, politik merupakan seni mengelola kepercayaan publik. Saat ini, produk-produk politik lebih baik dibandingkan dengan zaman dulu (kerajaan). Bila dulu raja-raja saling berperang hingga terjadi pertumpahan darah untuk mendapatkan kekuasan, dewasa ini ada pemilu sebagai produk politik yang memungkinkan terjadinya perlihan kekuasaan tanpa pertumpahan darah.
Gus Bahan menganggap metode ini lebih baik meskipun belum ideal. "Kalau kita melihat politik sebagai cara atau seni mengelola kekuasaan dengan cara yang lebih enak, lebih beradab. Jadi cara (politik sekarang) itu sudah membaik, dari yang sebelumnya," kata Gus Baha di kediamannya, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2021) kemarin.
Baca juga: Biografi dan Silsilah Gus Baha, Nasabnya Sampai kepada Brawijaya V
"Kan nggak kebayang dulu (misalnya) Timur Leste keluar dari Indonesia (mekanismenya) lewat duel (atau perang). Tapi kan (pada akhirnya) lewat politik, lewat jajak pendapat. Begitu juga pemilihan gubernur dan bupati," imbuh Gus Baha.
Sehingga, berpolitik yang dijalankan dewasa ini bisa dijalani dengan baik. Sebab, politik merupakan suatu hal yang substansial, karena berhubungan dengan kemaslahatan umat. Apabila politik tidak dijalankan dengan amanah, maka yang timbul adalah rasa saling menyalahkan dan curiga. Hal itu berimplikasi pada keterpurukan suatu bangsa. Ini penting agar kita tidak menjadi bangsa yang hanya bisa saling menyalahkan.
"Jadi politik itu kembali ke kemaslahatan publik. Istilahnya kamu punya kamar seribu, yang dipakai tidur cuma satu kamar. Kalau punya beras satu ton, yang kamu makan hanya satu liter. Artinya apa, artinya kebutuhannya adalah sama-sama satu piring. Karena kalau proses politik itu tidak dianggap lebih baik atau membaik (sekarang ini), semua orang akan merasa salah terus dan akan saling menyalahkan. Jadi bangsa yang nggak punya ide untuk bikin rumus-rumus (kebijakan yang lebih) baik," papar Gus Baha.
Lihat Juga :