Peneliti LSI: Penulis Itu DNA-nya Berkarya, Bukan Berkuasa
Senin, 09 Agustus 2021 - 13:10 WIB
loading...
A
A
A
“Sudahlah, cukup yang yang bertikai berebut kekuasaan itu para politisi di partai politik dan gedung DPR/MPR. Jangan dibawa merembet ke organisasi para penulis. Seluruh anggota Satupena itu seharusnya tak punya waktu dan kesempatan untuk berpikir berebut kekuasaan dan jabatan ketua umum, karena waktunya dihabiskan untuk berkarya,” kata Toto Senin (9/8/2021). Baca juga: Prajurit Kopassus Ini Rebut 100 Senjata Musuh dan Penentu Keberhasilan Operasi Mapenduma
Karena itu, Toto mengingatkan, siapapun yang hari ini tergabung dalam Satupena untuk tidak mengajari para penulis lakukan ‘kudeta’. Disamping telah melenceng keluar dari habitat aslinya sebagai penulis sekaligus civil siciety, juga hanya akan menjadi nontonan menggelikan rakyat hari ini yang sedang mengalami berbagai kesulitan hidup.
Menurut Toto, sangat tak elok dilihat dan didengar, para penulis harus menguras waktunya dengan berebut posisi lewat ‘kudeta’ jabatan ketua umum yang sah. Masih ada ruang demokrasi yang terbuka lebar untuk berdialog dan beradu gagasan sehat. Terutama, dalam kontek merumuskan peran maksimal para penulis dalam menunaikan tugas sucinya sebagai kelompok intelektual yang kritis, kreatif dan peduli terhadap keadaan hari ini yang sedang tidak baik-baik saja.
“Saya sih berharap, jangan ada penulis yang mau menjadi inang bersemainya virus demokrasi yang pathogenic di lingkungannya masing-masing, termasuk di lingkungan organisasi para penulis. Mari kita jaga imunitas demokrasi ini agar makin sehat dan kuat. Salah satunya, mereka harus kembali ke ‘DNA’ awalnya sebagai agen moral, bukan agen kekuasaan,” tegas Toto
Karena itu, Toto mengingatkan, siapapun yang hari ini tergabung dalam Satupena untuk tidak mengajari para penulis lakukan ‘kudeta’. Disamping telah melenceng keluar dari habitat aslinya sebagai penulis sekaligus civil siciety, juga hanya akan menjadi nontonan menggelikan rakyat hari ini yang sedang mengalami berbagai kesulitan hidup.
Menurut Toto, sangat tak elok dilihat dan didengar, para penulis harus menguras waktunya dengan berebut posisi lewat ‘kudeta’ jabatan ketua umum yang sah. Masih ada ruang demokrasi yang terbuka lebar untuk berdialog dan beradu gagasan sehat. Terutama, dalam kontek merumuskan peran maksimal para penulis dalam menunaikan tugas sucinya sebagai kelompok intelektual yang kritis, kreatif dan peduli terhadap keadaan hari ini yang sedang tidak baik-baik saja.
“Saya sih berharap, jangan ada penulis yang mau menjadi inang bersemainya virus demokrasi yang pathogenic di lingkungannya masing-masing, termasuk di lingkungan organisasi para penulis. Mari kita jaga imunitas demokrasi ini agar makin sehat dan kuat. Salah satunya, mereka harus kembali ke ‘DNA’ awalnya sebagai agen moral, bukan agen kekuasaan,” tegas Toto
(cip)
Lihat Juga :