Kata AHY soal Era New Normal: Jangan Berharap Untung, Malah Buntung
Kamis, 28 Mei 2020 - 17:11 WIB
loading...
Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Rencana pembukaan aktivitas masyarakat menuai prokontra. Pasalnya, hingga kini pandemi virus Coron (Covid-19) di Indonesia belum ada tanda-tanda menurun signifikan.
Pemerintah diminta hati-hati dalam melaksanakan new normal atau kenormalan baru di seluruh sendi kehidupan.
Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ikut bersuara mengenai isu kenormalan baru dan protokol kesehatan yang ketat sampai pandemi Covid-19 ini benar-benar berakhir.
“Penelitian menunjukkan wilayah yang menerapkan protokol kesehatan ketat cenderung bisa menekan pandemi berkepanjangan, korban, dan jumlah kematian lebih sedikit. Pertumbuhan ekonomi pasca pandemi lebih tinggi. Aturan ketat dan disiplin bisa menyelamatkan nyawa dan ekonomi,” ujar AHY melalui akun twitter @AgusYudhoyono, Kamis (28/5/2020).
(Baca juga: Gus Yaqut Kritik Istilah New Normal: Itu Sejenis Ketan atau Gaplek? )
Dia menyebutkan kesimpulan itu didasarkan pada kajian statistik dan sejarah ekonomi-politik global saat menghadapi Spanis Flu pada 1914-1919. Hal itu diungkapkan oleh peneliti dari Massachutetts Institute of Technology (MIT).
Menurut dia, wabah yang terjadi lebih dari seabad lalu sebagai pelajaran untuk menghadapi krisis Covid-19 ini.
Pemerintah diminta hati-hati dalam melaksanakan new normal atau kenormalan baru di seluruh sendi kehidupan.
Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ikut bersuara mengenai isu kenormalan baru dan protokol kesehatan yang ketat sampai pandemi Covid-19 ini benar-benar berakhir.
“Penelitian menunjukkan wilayah yang menerapkan protokol kesehatan ketat cenderung bisa menekan pandemi berkepanjangan, korban, dan jumlah kematian lebih sedikit. Pertumbuhan ekonomi pasca pandemi lebih tinggi. Aturan ketat dan disiplin bisa menyelamatkan nyawa dan ekonomi,” ujar AHY melalui akun twitter @AgusYudhoyono, Kamis (28/5/2020).
(Baca juga: Gus Yaqut Kritik Istilah New Normal: Itu Sejenis Ketan atau Gaplek? )
Dia menyebutkan kesimpulan itu didasarkan pada kajian statistik dan sejarah ekonomi-politik global saat menghadapi Spanis Flu pada 1914-1919. Hal itu diungkapkan oleh peneliti dari Massachutetts Institute of Technology (MIT).
Menurut dia, wabah yang terjadi lebih dari seabad lalu sebagai pelajaran untuk menghadapi krisis Covid-19 ini.
Lihat Juga :