Slamet Riyadi, Gugur Tertembak di Usia 23 Tahun Jelang Operasi Berakhir
Selasa, 20 Juli 2021 - 06:08 WIB
loading...
A
A
A
Setelah Jepang menyerah, Belanda berupaya untuk kembali menjajah Indonesia. Karena tidak mau dijajah kembali, rakyat Indonesia pun melakukan perlawanan balik. Slamet memulai kampanye gerilya melawan Belanda dan dengan cepat memperoleh kenaikan pangkat.
Dia bertanggung jawab atas Resimen 26 di Surakarta. Selama Agresi Militer Belanda I, yaitu serangan umum yang dilancarkan oleh Belanda pada pertengahan 1947, Slamet memimpin pasukan Indonesia di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Ambarawa dan Semarang. Dia juga memimpin pasukan penyisir di sepanjang Gunung Merapi dan Merbabu.
Setahun kemudian pada bulan September 1948, Slamet dipromosikan dan diserahi kontrol atas empat batalion tentara dan satu batalion tentara pelajar. Dua bulan setelahnya, Belanda melancarkan serangan kedua. Kali ini menyasar Kota Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota negara.
Meskipun Slamet dan pasukannya melancarkan serangan terhadap tentara Belanda yang berusaha mendekati Solo melalui Klaten, tentara Belanda akhirnya berhasil memasuki kota. Dengan menerapkan kebijakan "berpencar dan menaklukkan", Slamet mampu menghalau tentara Belanda dalam waktu empat hari. Setelah itu, Slamet dikirim ke Jawa Barat untuk melawan Angkatan Perang Ratu Adil bentukan Raymond Westerling.
Namun tak lama setelah berakhirnya perang, Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Indonesia yang baru lahir. Slamet dikirim ke garis depan pada tanggal 10 Juli 1950 sebagai bagian dari Operasi Senopati. Untuk merebut kembali Pulau Ambon, Slamet membawa setengah pasukannya dan menyerbu pantai timur, sedangkan sisanya ditugaskan untuk menyerang dari pantai utara. Baca juga: Mayor Sugeng, Rela Serahkan Nyawa demi Antarkan Amunisi untuk Kopassus
Meskipun pasukan kedua mengobarkan perlawanan dengan sengit, pasukan Slamet mampu mengambil alih pantai tanpa perlawanan; mereka kemudian mendaratkan lebih banyak infanteri dan kendaraan lapis baja.
Pada tanggal 3 Oktober, pasukan Slamet bersama dengan Kolonel Alexander Evert Kawilarang ditugaskan untuk mengambil alih ibu kota pemberontak di New Victoria. Slamet dan Kawilarang memimpin tiga serangan; pasukan darat menyerang dari utara dan timur, sedangkan pasukan laut langsung diterjunkan di pelabuhan Ambon.
Dia bertanggung jawab atas Resimen 26 di Surakarta. Selama Agresi Militer Belanda I, yaitu serangan umum yang dilancarkan oleh Belanda pada pertengahan 1947, Slamet memimpin pasukan Indonesia di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Ambarawa dan Semarang. Dia juga memimpin pasukan penyisir di sepanjang Gunung Merapi dan Merbabu.
Setahun kemudian pada bulan September 1948, Slamet dipromosikan dan diserahi kontrol atas empat batalion tentara dan satu batalion tentara pelajar. Dua bulan setelahnya, Belanda melancarkan serangan kedua. Kali ini menyasar Kota Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota negara.
Meskipun Slamet dan pasukannya melancarkan serangan terhadap tentara Belanda yang berusaha mendekati Solo melalui Klaten, tentara Belanda akhirnya berhasil memasuki kota. Dengan menerapkan kebijakan "berpencar dan menaklukkan", Slamet mampu menghalau tentara Belanda dalam waktu empat hari. Setelah itu, Slamet dikirim ke Jawa Barat untuk melawan Angkatan Perang Ratu Adil bentukan Raymond Westerling.
Namun tak lama setelah berakhirnya perang, Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Indonesia yang baru lahir. Slamet dikirim ke garis depan pada tanggal 10 Juli 1950 sebagai bagian dari Operasi Senopati. Untuk merebut kembali Pulau Ambon, Slamet membawa setengah pasukannya dan menyerbu pantai timur, sedangkan sisanya ditugaskan untuk menyerang dari pantai utara. Baca juga: Mayor Sugeng, Rela Serahkan Nyawa demi Antarkan Amunisi untuk Kopassus
Meskipun pasukan kedua mengobarkan perlawanan dengan sengit, pasukan Slamet mampu mengambil alih pantai tanpa perlawanan; mereka kemudian mendaratkan lebih banyak infanteri dan kendaraan lapis baja.
Pada tanggal 3 Oktober, pasukan Slamet bersama dengan Kolonel Alexander Evert Kawilarang ditugaskan untuk mengambil alih ibu kota pemberontak di New Victoria. Slamet dan Kawilarang memimpin tiga serangan; pasukan darat menyerang dari utara dan timur, sedangkan pasukan laut langsung diterjunkan di pelabuhan Ambon.
Lihat Juga :