Mayor Sugeng, Rela Serahkan Nyawa demi Antarkan Amunisi untuk Kopassus
Minggu, 11 Juli 2021 - 06:29 WIB
loading...
Dalam masa awal Operasi Seroja sekitar bulan Agustus 1976, tercatat dengan tinta emas sikap heroik Kapten Sugeng Hardjo Taruno. Foto/Historia
A
A
A
JAKARTA - Dalam masa awal Operasi Seroja sekitar bulan Agustus 1976, tercatat dengan tinta emas sikap heroik Kapten Sugeng Hardjo Taruno. Kepahlawanannya tak lekang oleh waktu dan patut menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia.
Kapten Marinir Sugeng Hardjo Taruno selaku penerbang helikopter Korps Marinir TNI Angkatan Laut gugur saat menjalankan tugas negara mendukung operasi darat di palagan Timor Timur pada tahun 1976. Dia gugur saat melaksanakan tugas terbang ke Kota Same untuk mengantar dukungan logistik kepada satu pasukan Kopassus TNI AD yang terkepung. Baca juga: Hebat! Perwira TNI AL Raih Nilai Tertinggi di Naval War Collage Amerika Serikat
Mayor KKO (Anumerta) Sugeng Hardjo Taruno meninggal di Dili, Timor Timur, 3 Agustus 1976 pada umur 37 tahun adalah seorang tokoh militer dan penerbang Korps Marinir Angkatan pertama, alumnus Sekolah Perwira Cadangan KKO (Sepacako) tahun 1962 (Nrp.3119/P) yang gugur dalam Operasi Seroja di Timor-Timur pada 3 Agustus 1976.
Kota Same adalah satu kota kecil di sebelah selatan Kota Dili, jaraknya sekitar 50 km dari ibu kota Timor-Timur. Sehari sebelumnya Kogasgab Seroja yang bermarkas di Kota Dili menerima permintaan bantuan logistik dari satu pasukan Kopassus yang terkepung oleh pasukan Fretilin.
Menerima permintaan itu, maka satuan pesawat dari Pelita Air Service yang diperbantukan ke Kogasgab diperintahkan untuk mengirimkan logistik berupa makanan, amunisi, dan obat-obatan. Tetapi mendengar bahwa Kota Same sedang dalam pengepungan, penerbang yang sebenarnya mendapat giliran tugas hari itu menolak untuk bertugas.
Melihat hal itu, Kapten KKO Sugeng yang sudah bertugas pada hari sebelumnya bersedia menggantikannya dengan sukarela. Hal itu kemungkinan besar didasarkan pada pengalamannya sebagai pasukan Infanteri di Batalyon I KKO.
Kemudian dari lapangan terbang Komoro di Kota Dili, Kapten Sugeng menerbangkan pesawat helikopter jenis Bolkow 105 dengan mengangkut logistik yang diminta oleh satuan Kopassus. Penerbangan menuju Kota Same, meskipun melalui daerah-daerah yang dikuasai Fretilin tidak ada gangguan.
Kapten Marinir Sugeng Hardjo Taruno selaku penerbang helikopter Korps Marinir TNI Angkatan Laut gugur saat menjalankan tugas negara mendukung operasi darat di palagan Timor Timur pada tahun 1976. Dia gugur saat melaksanakan tugas terbang ke Kota Same untuk mengantar dukungan logistik kepada satu pasukan Kopassus TNI AD yang terkepung. Baca juga: Hebat! Perwira TNI AL Raih Nilai Tertinggi di Naval War Collage Amerika Serikat
Mayor KKO (Anumerta) Sugeng Hardjo Taruno meninggal di Dili, Timor Timur, 3 Agustus 1976 pada umur 37 tahun adalah seorang tokoh militer dan penerbang Korps Marinir Angkatan pertama, alumnus Sekolah Perwira Cadangan KKO (Sepacako) tahun 1962 (Nrp.3119/P) yang gugur dalam Operasi Seroja di Timor-Timur pada 3 Agustus 1976.
Kota Same adalah satu kota kecil di sebelah selatan Kota Dili, jaraknya sekitar 50 km dari ibu kota Timor-Timur. Sehari sebelumnya Kogasgab Seroja yang bermarkas di Kota Dili menerima permintaan bantuan logistik dari satu pasukan Kopassus yang terkepung oleh pasukan Fretilin.
Menerima permintaan itu, maka satuan pesawat dari Pelita Air Service yang diperbantukan ke Kogasgab diperintahkan untuk mengirimkan logistik berupa makanan, amunisi, dan obat-obatan. Tetapi mendengar bahwa Kota Same sedang dalam pengepungan, penerbang yang sebenarnya mendapat giliran tugas hari itu menolak untuk bertugas.
Melihat hal itu, Kapten KKO Sugeng yang sudah bertugas pada hari sebelumnya bersedia menggantikannya dengan sukarela. Hal itu kemungkinan besar didasarkan pada pengalamannya sebagai pasukan Infanteri di Batalyon I KKO.
Kemudian dari lapangan terbang Komoro di Kota Dili, Kapten Sugeng menerbangkan pesawat helikopter jenis Bolkow 105 dengan mengangkut logistik yang diminta oleh satuan Kopassus. Penerbangan menuju Kota Same, meskipun melalui daerah-daerah yang dikuasai Fretilin tidak ada gangguan.
Lihat Juga :