Terowongan Istiqlal-Katedral, Modal Sosial Kehidupan Beragama
Senin, 12 Juli 2021 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral ini sebenarnya bisa didekati dengan banyak sudut pandang, tetapi tulisan ini hendak melihatnya dari sudut pandang teori bridging social capital. Tujuannya adalah untuk melihat, modal sosial apa yang diberikan terowongan itu bagi masa depan kehidupana beragama di Indonesia. Membuat sebuah terowongan memang tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat, rukun dan bersih dari kasus intoleransi. Kendatipun demikian, terowongan silaturahmi tersebut dapat kita lihat sebagai sebuah modal sosial bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sunyoto Usman membagi modal, sesuatu yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial, menjadi empat tipe, yakni modal finansial, modal fisik, modal manusia atau human capital dan modal sosial. Terowongan silaturahmi sebagai bangunan bisa berperan sebagai modal fisik. Namun sebagai sebuah simbol, ia juga bisa berperan sebagai modal sosial. Modal fisik adalah faktor produksi barang atau jasa, dapat berupa bahan baku, seperti sumber daya alam dan bahan tambang atau berupa infrastruktur. Sedangkan modal sosial adalah usaha untuk mengelola, meningkatkan dan menggunakan relasi sosial untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial.
Menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat dan rukun adalah cita-cita besar dengan banyak tantangan. Meskipun umat muslim adalah warga negara mayoritas di Indonesia, mereka tetap tidak dapat berjalan sebelah tangan. Seluruh warga negara yang berada di bawah naungan NKRI tanpa memandang latar belakang agama, perlu saling bahu membahu untuk menciptakan negara yang aman, damai dan tenteram. Sunyoto Usman menyebut kondisi ini sebagai adaptive capacity. Keadaan di mana masyarakat berusaha beradaptasi atau melakukan survival strategy karena kondisi yang telah berubah. Pada kondisi inilah, modal sosial didayagunakan.
Terdapat dua kategori modal sosial, yakni bonding social capital dan bridging social capital. Bonding social capital mengikat jejaring dari aktor sosial berdasarkan identitas kekerabatan, agama atau adat tertentu, sehingga jejaring dari bonding social capital ini tidak terlalu luas. Berbeda dengan bridging social capital yang mengikat aktor sosial tidak terbatas, sebab relasi yang dibangun melampaui identitas kekerabatan, agama atau adat tertentu. Sehingga peran relasi-relasi dengan networking atau bridging social tersebut lebih kuat dari pada bonding social. Terowongan silaturahmi, secara simbolik telah menyiratkan kesan bridging social tersebut. Sebuah modal kunci bagi masa depan moderasi beragama di Indonesia.
Paparan di atas menyiratkan, pembangunan terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral sebagai citra yang dibentuk oleh pemerintah setidaknya dapat menjadi modal awal untuk menyerukan, mengelorakan dan melanggengkan semangat moderasi beragama sehingga tercipta kerukunan hidup beragama. Namun perlu diingat pula, terowongan silaturahmi tersebut tetap saja hanya sebagai sebuah bangunan infrastrutur sebagaimana fasilitas infrastruktur lainnya tanpa keterlibatan masyarakat yang sadar akan nilai pentingnya kerukunan hidup beragama. Karena itu, penting bagi kita untuk terus menggalakkan dan mengelorakan semangat moderasi beragama dan melawan diskriminasi melalui berbagai kegiatan-kegiatan syiar moderasi.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sunyoto Usman membagi modal, sesuatu yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial, menjadi empat tipe, yakni modal finansial, modal fisik, modal manusia atau human capital dan modal sosial. Terowongan silaturahmi sebagai bangunan bisa berperan sebagai modal fisik. Namun sebagai sebuah simbol, ia juga bisa berperan sebagai modal sosial. Modal fisik adalah faktor produksi barang atau jasa, dapat berupa bahan baku, seperti sumber daya alam dan bahan tambang atau berupa infrastruktur. Sedangkan modal sosial adalah usaha untuk mengelola, meningkatkan dan menggunakan relasi sosial untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat sosial.
Menjadikan Indonesia sebagai negara yang moderat dan rukun adalah cita-cita besar dengan banyak tantangan. Meskipun umat muslim adalah warga negara mayoritas di Indonesia, mereka tetap tidak dapat berjalan sebelah tangan. Seluruh warga negara yang berada di bawah naungan NKRI tanpa memandang latar belakang agama, perlu saling bahu membahu untuk menciptakan negara yang aman, damai dan tenteram. Sunyoto Usman menyebut kondisi ini sebagai adaptive capacity. Keadaan di mana masyarakat berusaha beradaptasi atau melakukan survival strategy karena kondisi yang telah berubah. Pada kondisi inilah, modal sosial didayagunakan.
Terdapat dua kategori modal sosial, yakni bonding social capital dan bridging social capital. Bonding social capital mengikat jejaring dari aktor sosial berdasarkan identitas kekerabatan, agama atau adat tertentu, sehingga jejaring dari bonding social capital ini tidak terlalu luas. Berbeda dengan bridging social capital yang mengikat aktor sosial tidak terbatas, sebab relasi yang dibangun melampaui identitas kekerabatan, agama atau adat tertentu. Sehingga peran relasi-relasi dengan networking atau bridging social tersebut lebih kuat dari pada bonding social. Terowongan silaturahmi, secara simbolik telah menyiratkan kesan bridging social tersebut. Sebuah modal kunci bagi masa depan moderasi beragama di Indonesia.
Paparan di atas menyiratkan, pembangunan terowongan silaturahmi Istiqlal-Katedral sebagai citra yang dibentuk oleh pemerintah setidaknya dapat menjadi modal awal untuk menyerukan, mengelorakan dan melanggengkan semangat moderasi beragama sehingga tercipta kerukunan hidup beragama. Namun perlu diingat pula, terowongan silaturahmi tersebut tetap saja hanya sebagai sebuah bangunan infrastrutur sebagaimana fasilitas infrastruktur lainnya tanpa keterlibatan masyarakat yang sadar akan nilai pentingnya kerukunan hidup beragama. Karena itu, penting bagi kita untuk terus menggalakkan dan mengelorakan semangat moderasi beragama dan melawan diskriminasi melalui berbagai kegiatan-kegiatan syiar moderasi.
(war)
Lihat Juga :