Selain Jokowi-Megawati-Prabowo, 3 Kelompok Ini Juga King Maker Pilpres 2024
Rabu, 30 Juni 2021 - 18:29 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, Emrus melanjutkan, pemilik media. Opini publik bisa dimainkan oleh para pemilik media ini. Karena itu, para king maker lain juga melihat bahwa pemilik grup media ini perlu dilibatkan. Tentu alasannya, karena media itu bisa mengonstruksi tokoh tertentu, bisa men-downgrade tokoh tertentu dan juga bisa meng-upgrade tokoh tertentu melalui media massa dalam menciptakan realitas personal branding dari seseorang.
"Padahal, kalau kita mau jujur, setiap manusia ada plus minusnya, tapi ketika media tidak diikutsertakan maka mereka ini akan membangun sisi lain yang men-downgrade, fakta memang. Tapi kalau diikutsertakan maka akan diangkat sisi positif, fakta juga. karena itu akan bermain dengan agenda setting dan framing. Jadi pemilik media, salah satu dari pada king maker tersebut," papar Emrus.
Yang terakhir, menurut Dewan Pakar Indonesian Professional Speakers Association (IPSA) ini, meski suatu negara berdaulat, itu hanya secara normatif. Tapi, kalau secara pendekatan objektif, apakah benar berdaulat 100% setiap negara di dunia. Karena, di era globalisasi ini, sudah terjadi interaksi yang begitu kuat sekali, termasuk membentuk dinamika ekonomi di suatu negara tertentu, dinamika demokrasi, dan juga pengaruh-pengaruh lainnya.
"Jadi, kekuatan internasional juga akan menentukan, walaupun secara tidak langsung mereka mengalkulasi ini. Mungkin tidak terlibat dalam suatu penentuan secara diskusi, tetapi secara tidak langsung itu akan menjadi kalkulasi. Misalnya, tokoh si A, dapat dukungan dari lembaga misalnya pemberi pinjaman atau dengan organisasi tertentu misalnya. Itu akan menjadi suatu modal seseorang itu menjadi dicalonkan."
"Padahal, kalau kita mau jujur, setiap manusia ada plus minusnya, tapi ketika media tidak diikutsertakan maka mereka ini akan membangun sisi lain yang men-downgrade, fakta memang. Tapi kalau diikutsertakan maka akan diangkat sisi positif, fakta juga. karena itu akan bermain dengan agenda setting dan framing. Jadi pemilik media, salah satu dari pada king maker tersebut," papar Emrus.
Yang terakhir, menurut Dewan Pakar Indonesian Professional Speakers Association (IPSA) ini, meski suatu negara berdaulat, itu hanya secara normatif. Tapi, kalau secara pendekatan objektif, apakah benar berdaulat 100% setiap negara di dunia. Karena, di era globalisasi ini, sudah terjadi interaksi yang begitu kuat sekali, termasuk membentuk dinamika ekonomi di suatu negara tertentu, dinamika demokrasi, dan juga pengaruh-pengaruh lainnya.
"Jadi, kekuatan internasional juga akan menentukan, walaupun secara tidak langsung mereka mengalkulasi ini. Mungkin tidak terlibat dalam suatu penentuan secara diskusi, tetapi secara tidak langsung itu akan menjadi kalkulasi. Misalnya, tokoh si A, dapat dukungan dari lembaga misalnya pemberi pinjaman atau dengan organisasi tertentu misalnya. Itu akan menjadi suatu modal seseorang itu menjadi dicalonkan."
(zik)
Lihat Juga :