Haul 100 Tahun Pak Harto, Tutut: Beliau Teladan dan Sosok Religius
Selasa, 08 Juni 2021 - 20:05 WIB
loading...
A
A
A
HM Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di Desa Kemusuk, Yogyakarta. Dia dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Jasa Pak Soeharto dalam membangun citra Islam di Indonesia cukup signifikan.
Dia di antaranya menggagas dibangunnya 999 masjid di seluruh Indonesia. Pembangunan masjid dilakukan melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Baca juga: Peringati 100 Tahun Presiden Soeharto, Keluarga Gelar Doa Bersama di Masjid At Tin
“Beliau adalah orang tua bijak yang sangat kami kagumi dan sayangi. Beliau adalah guru dan teladan yang amat kami hormati. Beliau selalu melangkah dengan semangat kerja tak kenal lelah tanpa pamrih, jujur, tekun, tegas, dan bijaksana,” ujar Mbak Tutut.
Pada setiap langkahnya, Pak Harto selalu dilandasi kedisiplinan yang tinggi sesuai jiwa kemiliteran yang mengalir sejak usia muda. “Dibarengi tuntunan agama yang lekat dalam jiwanya sejak kecil. Bapak pantang menyerah dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil meskipun banyak kendala yang dihadapi,” ungkapnya.
Menurut Tutut, ayahnya sering mengingatkan tentang filosofi Tri Dharma Mangkunegaran. Sebuah doktrin Pangeran Sambernyowo, leluhur keluarganya dalam menumbuhkan rasa cinta rakyat kepada bangsa. Doktrin itu dikenal dengan ’Tri Dharma,’ yaitu: ”Melu Handarbeni, Melu Hangrungkebi, Mulat Sariro Hangrosowani.”
Bahwa kita sebagai rakyat harus tumbuh rasa ikut memiliki (melu handarbeni) terhadap bangsa kita yang besar ini. Untuk itu, kata Tutut, kita harus mengenal secara mendalam terhadap jati diri bangsa kita. Kita harus memiliki wawasan kebangsaan yang mendalam.
Dia di antaranya menggagas dibangunnya 999 masjid di seluruh Indonesia. Pembangunan masjid dilakukan melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Baca juga: Peringati 100 Tahun Presiden Soeharto, Keluarga Gelar Doa Bersama di Masjid At Tin
“Beliau adalah orang tua bijak yang sangat kami kagumi dan sayangi. Beliau adalah guru dan teladan yang amat kami hormati. Beliau selalu melangkah dengan semangat kerja tak kenal lelah tanpa pamrih, jujur, tekun, tegas, dan bijaksana,” ujar Mbak Tutut.
Pada setiap langkahnya, Pak Harto selalu dilandasi kedisiplinan yang tinggi sesuai jiwa kemiliteran yang mengalir sejak usia muda. “Dibarengi tuntunan agama yang lekat dalam jiwanya sejak kecil. Bapak pantang menyerah dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil meskipun banyak kendala yang dihadapi,” ungkapnya.
Menurut Tutut, ayahnya sering mengingatkan tentang filosofi Tri Dharma Mangkunegaran. Sebuah doktrin Pangeran Sambernyowo, leluhur keluarganya dalam menumbuhkan rasa cinta rakyat kepada bangsa. Doktrin itu dikenal dengan ’Tri Dharma,’ yaitu: ”Melu Handarbeni, Melu Hangrungkebi, Mulat Sariro Hangrosowani.”
Bahwa kita sebagai rakyat harus tumbuh rasa ikut memiliki (melu handarbeni) terhadap bangsa kita yang besar ini. Untuk itu, kata Tutut, kita harus mengenal secara mendalam terhadap jati diri bangsa kita. Kita harus memiliki wawasan kebangsaan yang mendalam.
Lihat Juga :