EIU Sebut Demokrasi di Indonesia Mundur, Rizal Ramli: Solusinya Hapus PT
Senin, 07 Juni 2021 - 02:02 WIB
loading...
Tokoh nasional Rizal Ramli. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Tokoh nasional, Rizal Ramli (RR) mengaku miris dengan kemunduran demokrasi di Indonesia. Bahkan, fakta itu juga terungkap dalam laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) mengenai Indeks Demokrasi 2020, yang mencatat Indonesia turun dari skor 6,48 di tahun 2019 menjadi 6,3 di tahun 2020.
Angka itu merupakan yang terendah selama 14 tahun terakhir. Bahkan, skor tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-64 dari 167 negara dunia.
Menurut Rizal Ramli, ProDEM bersama para aktivis lainnya sudah berjuang melawan dan berkorban untuk menghapuskan sistem otoriter dan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Baca juga: Rizal Ramli: Ubah Demokrasi Kriminal Menjadi Demokrasi Bersih dan Amanah
"Kita berhasil mengubah sistem otoriter menjadi demokratis dan KKN dikurangi. Tapi kemenangan itu hanya sementara. Karena anasir-anasir otoriter dan KKN kembali merebut kekuasaan, membalikkan tonggak-tonggak kemenangan yang kita bangun. Kembali pada sistem otoriter, sehingga indeks demokrasi Indonesia anjlok 30 poin," kata mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu di acara "Halal Bihalal dan Pembukaan Rumah Konsolidasi Demokrasi" di Kantor baru Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) di Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu 6 Juni 2021.
Rizal mengingatkan bahwa dalam waktu 3 tahun ke depan sampai 2024, krisis akan semakin dalam. Tentunya, rekayasa adu domba untuk menutupi hal itu akan semakin luar biasa. Hal itulah yang membuat demokrasi Indonesia akan semakin hancur.
"Setiap ada masalah di Indonesia, solusi mereka cuma satu, radikal radikul. Kok bisa nyelesain masalah dengan slogan bahwa semua masalah di Indonesia radikal radikul? Padahal masalah utama kita adalah, korupsi yang luar biasa. Tidak adanya konsistensi antara niat pemimpin, kata-kata pemimpin dan tindakan," kata Rizal Ramli.
Selain itu, sambung Rizal Ramli, demokrasi kriminal hari ini dengan wujud presidential treshold atau ambang batas presiden juga telah merusak sendi-sendi demokrasi. Karena, menurutnya, hal itu hanya melahirkan oligarki yang tentunya tidak setia kepada rakyat dan kepada tujuan kemerdekaan.
Angka itu merupakan yang terendah selama 14 tahun terakhir. Bahkan, skor tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-64 dari 167 negara dunia.
Menurut Rizal Ramli, ProDEM bersama para aktivis lainnya sudah berjuang melawan dan berkorban untuk menghapuskan sistem otoriter dan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Baca juga: Rizal Ramli: Ubah Demokrasi Kriminal Menjadi Demokrasi Bersih dan Amanah
"Kita berhasil mengubah sistem otoriter menjadi demokratis dan KKN dikurangi. Tapi kemenangan itu hanya sementara. Karena anasir-anasir otoriter dan KKN kembali merebut kekuasaan, membalikkan tonggak-tonggak kemenangan yang kita bangun. Kembali pada sistem otoriter, sehingga indeks demokrasi Indonesia anjlok 30 poin," kata mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu di acara "Halal Bihalal dan Pembukaan Rumah Konsolidasi Demokrasi" di Kantor baru Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) di Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu 6 Juni 2021.
Rizal mengingatkan bahwa dalam waktu 3 tahun ke depan sampai 2024, krisis akan semakin dalam. Tentunya, rekayasa adu domba untuk menutupi hal itu akan semakin luar biasa. Hal itulah yang membuat demokrasi Indonesia akan semakin hancur.
"Setiap ada masalah di Indonesia, solusi mereka cuma satu, radikal radikul. Kok bisa nyelesain masalah dengan slogan bahwa semua masalah di Indonesia radikal radikul? Padahal masalah utama kita adalah, korupsi yang luar biasa. Tidak adanya konsistensi antara niat pemimpin, kata-kata pemimpin dan tindakan," kata Rizal Ramli.
Selain itu, sambung Rizal Ramli, demokrasi kriminal hari ini dengan wujud presidential treshold atau ambang batas presiden juga telah merusak sendi-sendi demokrasi. Karena, menurutnya, hal itu hanya melahirkan oligarki yang tentunya tidak setia kepada rakyat dan kepada tujuan kemerdekaan.
Lihat Juga :