Rayakan Bulan Bung Karno, Pramono Anung dan Hasto Gowes di Yogyakarta
Sabtu, 05 Juni 2021 - 13:12 WIB
loading...
A
A
A
Berhenti di Waduk Sermo, Kulon Progo, Pramono dan Hasto menikmati pemandangan dan berfoto-foto.
Setelah beristirahat sejenak, bersepeda dilanjutkan melewati jalur Selokan Mataram. Bagi pesepeda, jalur ini dikenal sebagai 'Jalur Luna Maya', artis nasional yang beberapa kali bersepeda melewati jalur yang sama.
Berjalan sejauh 23 kilometer, Pramono Anung dan Hasto, cs berhenti di Kopi Klothok Menoreh untuk beristirahat. Tak lama kemudia, bersepeda kembali dilanjutkan. Sempat melewati Bendungan Ancol di Kalibawang, untuk mengarah kembali ke Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta. "Lumayan, ditargetkan 102 kilometer total jaraknya," kata Hasto Kristiyanto saat minum kelapa Kopi Klothok Menoreh.
Hasto berbicara mengenai Yogyakarta, yang menurutnya adalah bauran sempurna sebagai kota revolusi, kota kebudayaan, pendidikan, dan pusat pengembangan kebudayaan Jawa. Sepanjang perjalanan, dirinya dan peserta rombongan bisa melihat langsung bagaimana kota itu mengedepankan nilai-nilai kultural penuh dengan kreativitas dan daya cipta.
"Hidup dalam tradisi kebudayaan ini membuktikan bagaimana Pancasila hidup dalam keseharian masyarakat Yogya. Masyarakatnya sangat toleran dan bergotong royong," ujarnya.
Setelah beristirahat sejenak, bersepeda dilanjutkan melewati jalur Selokan Mataram. Bagi pesepeda, jalur ini dikenal sebagai 'Jalur Luna Maya', artis nasional yang beberapa kali bersepeda melewati jalur yang sama.
Berjalan sejauh 23 kilometer, Pramono Anung dan Hasto, cs berhenti di Kopi Klothok Menoreh untuk beristirahat. Tak lama kemudia, bersepeda kembali dilanjutkan. Sempat melewati Bendungan Ancol di Kalibawang, untuk mengarah kembali ke Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta. "Lumayan, ditargetkan 102 kilometer total jaraknya," kata Hasto Kristiyanto saat minum kelapa Kopi Klothok Menoreh.
Hasto berbicara mengenai Yogyakarta, yang menurutnya adalah bauran sempurna sebagai kota revolusi, kota kebudayaan, pendidikan, dan pusat pengembangan kebudayaan Jawa. Sepanjang perjalanan, dirinya dan peserta rombongan bisa melihat langsung bagaimana kota itu mengedepankan nilai-nilai kultural penuh dengan kreativitas dan daya cipta.
"Hidup dalam tradisi kebudayaan ini membuktikan bagaimana Pancasila hidup dalam keseharian masyarakat Yogya. Masyarakatnya sangat toleran dan bergotong royong," ujarnya.
Lihat Juga :