Anis Matta Nilai Reformasi Sistem Pertahanan Harus Dilakukan
Selasa, 01 Juni 2021 - 10:21 WIB
loading...
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menilai reformasi sistem pertahanan harus dilakukan. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menilai reformasi sistem pertahanan harus dilakukan. Sebab, perang masa depan bukan lagi perang secara fisik, melainkan perang sosial yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan kemajuan teknologi, seperti pencurian data strategis.
"Yang menciptakan teknologi, Amerika Serikat juga tak luput dari pencurian data saat Pilpres lalu. Bahkan ilmuwan nuklir Iran, Fahrizadeh tahun lalu dibunuh, dan pemerintah Iran mengumumkan seluruh data nuklir mereka dicuri," katanya, Selasa (1/6/2021). Baca juga: Anggaran Alutsista Disoal, Pengamat: Kita Negara Besar Pantas Miliki Militer yang Tangguh
Beruntung, saat ini Indonesia saat ini tidak memiliki negara yang menjadi musuh secara spesifik, hanya sekadar korporasi-korporasi kecil yang pekerjaannya melakukan pencurian data untuk kepentingan pribadi, seperti pencurian 279 data di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Baca juga: Memahami Kondisi, DPR Tak Masalahkan Rencana Pengadaan Alutsista Kemhan
"Tetapi supaya kita memandang persoalan ini, harus secara strategis dan bersikap jangka panjang karena pembobolan seperti ini, resiko permanen yang akan selalu ada. Sehingga kita perlu melakukan pendekatan baru dalam sistem dan strataegi pertahanan kita secara keseluruhan," tuturnya.
Menurutnya, jika tidak melakukan antisipasi dengan sistem dan strategi pertahanan baru, bukan mustahil pembobolan data yang lain terjadi, bisa data militer, kepolisian atau data strategis lainnya. "Kita belum kebayang saja, kalau data militer, kepolisian dan seterusnya. Ini semua bobol. Untungnya, kita juga tidak punya senjata nuklir, tiidak ada instalasi yang strategis banget, yang dicuri baru data BPJS," ujarnya.
"Yang menciptakan teknologi, Amerika Serikat juga tak luput dari pencurian data saat Pilpres lalu. Bahkan ilmuwan nuklir Iran, Fahrizadeh tahun lalu dibunuh, dan pemerintah Iran mengumumkan seluruh data nuklir mereka dicuri," katanya, Selasa (1/6/2021). Baca juga: Anggaran Alutsista Disoal, Pengamat: Kita Negara Besar Pantas Miliki Militer yang Tangguh
Beruntung, saat ini Indonesia saat ini tidak memiliki negara yang menjadi musuh secara spesifik, hanya sekadar korporasi-korporasi kecil yang pekerjaannya melakukan pencurian data untuk kepentingan pribadi, seperti pencurian 279 data di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Baca juga: Memahami Kondisi, DPR Tak Masalahkan Rencana Pengadaan Alutsista Kemhan
"Tetapi supaya kita memandang persoalan ini, harus secara strategis dan bersikap jangka panjang karena pembobolan seperti ini, resiko permanen yang akan selalu ada. Sehingga kita perlu melakukan pendekatan baru dalam sistem dan strataegi pertahanan kita secara keseluruhan," tuturnya.
Menurutnya, jika tidak melakukan antisipasi dengan sistem dan strategi pertahanan baru, bukan mustahil pembobolan data yang lain terjadi, bisa data militer, kepolisian atau data strategis lainnya. "Kita belum kebayang saja, kalau data militer, kepolisian dan seterusnya. Ini semua bobol. Untungnya, kita juga tidak punya senjata nuklir, tiidak ada instalasi yang strategis banget, yang dicuri baru data BPJS," ujarnya.
Lihat Juga :