Inovasi Polri Terkait ETLE Dinilai Sakti dan Efektif
Minggu, 23 Mei 2021 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
Dalam soal optimalisasi teknologi tersebut Nurkhasanah menunjuk bagaimana Kapolri tidak ragu untuk mengambil opsi teknologi dalam membantu Polri melaksanakan tugas mulia pelayanan dan perlindungan masyarakat tersebut.
"Teknologi itu jelas ada. Persoalannya, kepemimpinanlah yang menentukan dengan tegas apakah teknologi itu akan dioptimalkan untuk membantu tugas pelayanan, atau justru dibiarkan mubazir tak digunakan," ucap Nurkhasanah.
Ditambah dengan para pembantu Kapolri yang juga berani mengambil manfaat teknologi demi kemaslahatan warga masyarakat, yang kemudian diimplementasi secara nasional oleh Korlantas Polri dan di lapangan seperti yg dilakukan Ditlantas Polda Metro Jaya kemarin , maka lengkaplah kepemimpinan Polri yang berani dan penuh tanggung jawab tersebut.
"Pasalnya, kalau pemimpin yang medioker, yang ada dalam benaknya hanya ragu-ragu atau bahkan mengalami fobia terhadap teknologi. Ketakutan-ketakutan untuk mengambil tanggung jawab itu yang membuat masyarakat tidak akan pernah merasakan manfaat teknologi," kata Nurkhasanah.
Ia menegaskan, dalam kehidupan gampang ditemukan para pemimpin yang meminggirkan teknologi hanya karena dirinya tidak punya sikap, bahkan takut akan transparansi.
Lebih lanjut Nurkhasanah memuji ETLE sebagai teknologi paling tepat di tengah pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti ini. Ia menegaskan, sukar untuk tidak mengatakan inilah solusi tepat di tengah pandemi Covid -19 yang memaksa semua orang melakukan jarak social.
Nurkhasanah menunjuk, dengan penerapan ETLE yang segera menjangkau seluruh provinsi di Indonesia, akan menghindarkan kerumunan orang sebanyak lebih dari 6 juta orang setahun dalam sidang sidang tilang di Pengadilan , sebuah angka yang sangat signifikan berpotensi menularkan Covid-19 bila peluang itu tidak segera dihindari.
Tidak sekadar mencegah kerumunan, sistem digital Polri yang meminimalisasi kontak langsung antara petugas dan pengguna lalu lintas, juga bisa menjadi gerbang pembuka bagi Polri untuk menjadi institusi yang bersih dan bebas korupsi dan suap.
"ETLE dan system digital terpadu Polri menutup peluang terjadinya pungli di jalanan, yang pada gilirannya akan menghapus stigma buruk polisi dalam hal pungli, sebagaimana di masa lalu kita dengar," kata Nurkhasanah.
"Teknologi itu jelas ada. Persoalannya, kepemimpinanlah yang menentukan dengan tegas apakah teknologi itu akan dioptimalkan untuk membantu tugas pelayanan, atau justru dibiarkan mubazir tak digunakan," ucap Nurkhasanah.
Ditambah dengan para pembantu Kapolri yang juga berani mengambil manfaat teknologi demi kemaslahatan warga masyarakat, yang kemudian diimplementasi secara nasional oleh Korlantas Polri dan di lapangan seperti yg dilakukan Ditlantas Polda Metro Jaya kemarin , maka lengkaplah kepemimpinan Polri yang berani dan penuh tanggung jawab tersebut.
"Pasalnya, kalau pemimpin yang medioker, yang ada dalam benaknya hanya ragu-ragu atau bahkan mengalami fobia terhadap teknologi. Ketakutan-ketakutan untuk mengambil tanggung jawab itu yang membuat masyarakat tidak akan pernah merasakan manfaat teknologi," kata Nurkhasanah.
Ia menegaskan, dalam kehidupan gampang ditemukan para pemimpin yang meminggirkan teknologi hanya karena dirinya tidak punya sikap, bahkan takut akan transparansi.
Lebih lanjut Nurkhasanah memuji ETLE sebagai teknologi paling tepat di tengah pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti ini. Ia menegaskan, sukar untuk tidak mengatakan inilah solusi tepat di tengah pandemi Covid -19 yang memaksa semua orang melakukan jarak social.
Nurkhasanah menunjuk, dengan penerapan ETLE yang segera menjangkau seluruh provinsi di Indonesia, akan menghindarkan kerumunan orang sebanyak lebih dari 6 juta orang setahun dalam sidang sidang tilang di Pengadilan , sebuah angka yang sangat signifikan berpotensi menularkan Covid-19 bila peluang itu tidak segera dihindari.
Tidak sekadar mencegah kerumunan, sistem digital Polri yang meminimalisasi kontak langsung antara petugas dan pengguna lalu lintas, juga bisa menjadi gerbang pembuka bagi Polri untuk menjadi institusi yang bersih dan bebas korupsi dan suap.
"ETLE dan system digital terpadu Polri menutup peluang terjadinya pungli di jalanan, yang pada gilirannya akan menghapus stigma buruk polisi dalam hal pungli, sebagaimana di masa lalu kita dengar," kata Nurkhasanah.
(maf)
Lihat Juga :