Soal Ribut-ribut 75 Pegawai KPK, Politikus PKS: Aksi Pak Jokowi Ditunggu
Jum'at, 21 Mei 2021 - 19:11 WIB
loading...
Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera. Foto/dpr.go.id
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan konkret menuntaskan polemik penonaktifan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dinyatakan tidak lolos tes wawasan kebangsaan.
Mardani menilai saat ini ada pelemahan KPK dalam bentuk menyingkrikan 75 pegawai KPK. Jika persoalan ini dibiarkan, dikhawatirkan akan ada serangan berikutnya.
Mardani juga mengingatkan Presiden Jokowi bahwa pemberantasan korupsi adalah amanat reformasi.
Hal tersebut disampaikan Mardani melalui akun Twitternya, Jumat (21/5/2021). "Pelemahan KPK mesti dilawan. Dan jika Pak Jokowi sayang negeri, maka harus dihentikan pelemahan KPK dalam bentuk penyingkiran 75 pegawai ini. Aksi Pak Jokowi ditunggu. Jika sekarang dibiarkan akan ada serangan berikutnya. Memberantas korupsi adalah amanat reformasi kita," tulis Mardani seperti dikutip dari lini masa akun Twitternya, @MardaniAliSera, Jumat (21/5/2021).
Cuitan Mardani direspons banyak komentar pengguna Twitter alias netizen. Ada yang mendukung, tidak sedikit pula mengkritik mardani.
Mardani menilai saat ini ada pelemahan KPK dalam bentuk menyingkrikan 75 pegawai KPK. Jika persoalan ini dibiarkan, dikhawatirkan akan ada serangan berikutnya.
Mardani juga mengingatkan Presiden Jokowi bahwa pemberantasan korupsi adalah amanat reformasi.
Hal tersebut disampaikan Mardani melalui akun Twitternya, Jumat (21/5/2021). "Pelemahan KPK mesti dilawan. Dan jika Pak Jokowi sayang negeri, maka harus dihentikan pelemahan KPK dalam bentuk penyingkiran 75 pegawai ini. Aksi Pak Jokowi ditunggu. Jika sekarang dibiarkan akan ada serangan berikutnya. Memberantas korupsi adalah amanat reformasi kita," tulis Mardani seperti dikutip dari lini masa akun Twitternya, @MardaniAliSera, Jumat (21/5/2021).
Cuitan Mardani direspons banyak komentar pengguna Twitter alias netizen. Ada yang mendukung, tidak sedikit pula mengkritik mardani.
Lihat Juga :