Menata Pendidikan Dasar
Jum'at, 21 Mei 2021 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Sebaliknya, di negara kita, anak-anak sudah merasa capek dan letih kalau mendengar kata sekolah karena membayangkan tas yang penuh dengan buku dan pelajaran yang sulit dipahami. Situasi pandemi selama setahun menimbulkan kejenuhan tiada tara karena sehari-hari anak hanya berada di rumah mengikuti pembelajaran daring, kini mereka tergugah kembali untuk bersekolah bertemu guru dan teman-temannya bila pandemi sudah mereda.
Menjadi tugas besar bagi jajaran Kemendikbud-Ristek untuk membekali anak-anak kita dengan kurikulum yang bisa mewujudkan SDM (sumber daya manusia) berkualitas. Pembenahan kurikulum yang tidak menyentuh substansinya, hanya akan menuai protes dan kritik karena seolah ganti menteri ganti kurikulum. Kita semua merasa bersyukur ketika mendengar kebijakan agar anak-anak TK tidak lagi dipaksa untuk belajar membaca, karena usia TK adalah usia bermain untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Kita juga menyambut positif bila tes semesteran bagi anak kelas I SD ditiadakan.
Persoalan lain yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan adalah keluhan bahwa sistem pendidikan kita tidak melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Ini jelas berbeda dengan sistem pendidikan Barat yang selalu merangsang curiousity atau keingintahuan seorang anak.
Di era persaingan ini, prestasi akademik yang tinggi menjadi dambaan setiap siswa dan orang tuanya. Orang tua mendorong anaknya ikut bermacam kursus (les). Berbagai kursus tersebut memang dapat meningkatkan wawasan anak, tetapi tak jarang anak menjadi sangat kelelahan baik mental maupun fisik karena tiada hari tanpa kursus. Kesibukan berkursus ini juga menghilangkan kesempatan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang merupakan sarana hidup bermasyarakat.
Kita semua berharap sangat banyak dari Kemendikbud Ristek untuk menata permasalahan pendidikan yang kompleks ini. Persoalan kesejahteraan guru sedikit banyak kini sudah teratasi. Guru telah mempunyai penghasilan yang lebih baik karena ada tunjangan pendidikan senilai satu kali gaji pokok. Bahkan pernah di suatu perguruan tinggi negeri calon mahasiswa program studi pendidikan guru naik tajam ketika pemerintah mulai melaksanakan kebijakan pemberian tunjangan untuk para guru. Academic excellence harus selaras dengan welfare excellence. Jadi benahi kurikulum, perbaiki sarana-prasarana pendidikan, dan selalu perhatikan kesejahteraan guru.
Menjadi tugas besar bagi jajaran Kemendikbud-Ristek untuk membekali anak-anak kita dengan kurikulum yang bisa mewujudkan SDM (sumber daya manusia) berkualitas. Pembenahan kurikulum yang tidak menyentuh substansinya, hanya akan menuai protes dan kritik karena seolah ganti menteri ganti kurikulum. Kita semua merasa bersyukur ketika mendengar kebijakan agar anak-anak TK tidak lagi dipaksa untuk belajar membaca, karena usia TK adalah usia bermain untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Kita juga menyambut positif bila tes semesteran bagi anak kelas I SD ditiadakan.
Persoalan lain yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan adalah keluhan bahwa sistem pendidikan kita tidak melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Ini jelas berbeda dengan sistem pendidikan Barat yang selalu merangsang curiousity atau keingintahuan seorang anak.
Di era persaingan ini, prestasi akademik yang tinggi menjadi dambaan setiap siswa dan orang tuanya. Orang tua mendorong anaknya ikut bermacam kursus (les). Berbagai kursus tersebut memang dapat meningkatkan wawasan anak, tetapi tak jarang anak menjadi sangat kelelahan baik mental maupun fisik karena tiada hari tanpa kursus. Kesibukan berkursus ini juga menghilangkan kesempatan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang merupakan sarana hidup bermasyarakat.
Kita semua berharap sangat banyak dari Kemendikbud Ristek untuk menata permasalahan pendidikan yang kompleks ini. Persoalan kesejahteraan guru sedikit banyak kini sudah teratasi. Guru telah mempunyai penghasilan yang lebih baik karena ada tunjangan pendidikan senilai satu kali gaji pokok. Bahkan pernah di suatu perguruan tinggi negeri calon mahasiswa program studi pendidikan guru naik tajam ketika pemerintah mulai melaksanakan kebijakan pemberian tunjangan untuk para guru. Academic excellence harus selaras dengan welfare excellence. Jadi benahi kurikulum, perbaiki sarana-prasarana pendidikan, dan selalu perhatikan kesejahteraan guru.
Lihat Juga :