Darmizal: Prestasi dan Rekam Jejak Cemerlang Tak Jamin Lulus Tes ASN

Senin, 17 Mei 2021 - 06:50 WIB
loading...
Darmizal: Prestasi dan...
Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJO), HM Darmizal merespons terkait Indonesia dihebohkan pemberitaan 75 pegawai KPK yang tidak lolos TWK. Foto/Erfan Maruf/MPI
A A A
JAKARTA - Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJO), HM Darmizal merespons terkait Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan 75 pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Menurutnya, yang tidak lolos termasuk penyidik senior paling populer Novel Baswedan dan Sujanarko, Direktur KPK yang pernah mendapat predikat pegawai berprestasi.

Baca juga: 74 Guru Besar Minta Batalkan Pemberhentian 75 Pegawai KPK, Berikut Nama-namanya

"Sejumlah tokoh nasional, termasuk dari Muhammadiyah angkat bicara. Ada yang menuding bahwa tidak lolosnya Novel Baswedan dan lainnya karena ada dendam pribadi Pimpinan KPK. Bahkan adapula yang menuding Presiden Jokowi terlibat. Yang paling anyar ada yang menyebut KPK tamat di tangan Presiden Jokowi," kata Darmizal, Senin (17/5/2021).

Baca juga: Tes Wawasan Kebangsaan Pegawai KPK Amanat UU, Tak Perlu Dibatalkan

Darmizal menegaskan, tudingan miring itu muncul setelah 75 pegawai KPK dinyatakan tidak lolos tes TWK untuk jadi ASN. Kendati begitu, andai saja mereka lolos, maka tudingan itu tak akan pernah ada.

Menurut Darmizal, sesungguhnya tes TWK KPK telah melibatkan berbagai elemen nasional, termasuk lembaga kepegawaian nasional. Tes dilakukan secara transparan, akuntabel, terukur, dan berlaku umum. Dalam hal ini, KPK diyakini memiliki standar ukur sendiri yang tidak boleh diintervensi oleh siapa pun pihak luar.

Baca juga: Tes Wawasan Kebangsaan, Pegawai KPK Ditanya Apakah Ikut Demo Tolak Firli Bahuri

"Prosesnya pastilah legal, telah sesuai aturan main yang berlaku dalam perekrutan pegawai menjadi ASN. Soal peserta tes nya berprestasi, senior, punya rekam jejak cemerlang, tak bisa jadi jaminan lulus tes jadi pegawai atau ASN. Ini sudah jadi warisan sengkarut panjang nasional sejak dulu dari masa ke masa. Satu kenyataan yang sulit untuk bisa dipungkiri," tuturnya.

Contoh lain lanjut Darmizal, bisa dilihat pada saat tes masuk perguruan tinggi. Meski juara umum di sekolah, nilai ujian nasional tinggi, ternyata tidak jaminan untuk lulus tes. Bahkan yang lulus adalah yang prestasinya biasa-biasa saja di sekolah.

"Puluhan ribu orang yang ikut tes pegawai sebuah kementerian misalnya. Walaupun memiliki rekam jejak hebat, IPK tinggi, belum tentu lulus tes masuk pegawai. Kadang yang lulus tes itu secara akademis biasa-biasa saja," sambung Darmizal.

Karena itulah, Darmizal juga mengatakan rasanya sistem tes secara nasional, khususnya untuk pegawai atau ASN memang perlu untuk dievaluasi dan perlu dikaji ulang. Sistem perekrutan seperti apa yang paling sesuai untuk pegawai atau ASN. Apakah tes yang cocok itu berbasis teori atau berbasis kompetensi? Atau apakah implementasinya seragam atau berbeda-beda di setiap lembaga sesuai kebutuhan.

"Inilah yang perlu dievaluasi menyeluruh secara nasional oleh lembaga terkait dengan penyaringan pegawai atau ASN," ungkap politikus Partai Demokrat yang bergabung dalam kepengurusan partai hasil KLB pimpinan Moeldoko itu.

Sehingga kata dia, nantinya ketika mereka yang merasa pintar atau yang terlihat berprestasi, kemudian gagal tes, lalu ramai-ramai menyalahkan orang lain.

"Menyalahkan pimpinan lembaganya, menyalahkan siapa saja yang tidak disenangi, menyalahkan pimpinan KPK yang masa baktinya sangat terbatas. Bahkan kembali Menyalahkan Presiden yang tidak ada kaitannya dengan proses rekrutmen tersebut dan lain lain," pungkas dia.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Kasus Sertifikasi K3,...
Kasus Sertifikasi K3, KPK Telusuri Aliran Uang ke Pihak Kemnaker
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan...
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan Fee Rp1,6 Miliar untuk Ubah Hasil Audit di Muara Enim
OTT KPK di BPK Berujung...
OTT KPK di BPK Berujung 5 Tersangka, Bupati Muara Enim Edison Ikut Terjerat
KPK Tetapkan 4 Tersangka...
KPK Tetapkan 4 Tersangka terkait OTT BPK, Salah Satunya Bupati Muara Enim Edison
Pimpinan Lembaga Antirasuah...
Pimpinan Lembaga Antirasuah Diduga Terseret Kasus MBG, Ini Tanggapan KPK
Kasus Muara Enim, KPK:...
Kasus Muara Enim, KPK: Korupsi Terjadi sebelum Tahap Perencanaan-Penganggaran Dilakukan
Rumah Bupati Sugiri...
Rumah Bupati Sugiri Sancoko Digeledah, 3 Mobil Hardtop dan 1 Alphard Disita
KPK Periksa 9 Saksi,...
KPK Periksa 9 Saksi, Telusuri Pemberian Uang ke Bupati Gatut Sunu Wibowo
Rekomendasi
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Berita Terkini
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved