Masyarakat Nekat Mudik, Satgas: Percuma Dilarang jika Tak Diimbangi Kesadaran
Senin, 10 Mei 2021 - 13:51 WIB
loading...
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Beberapa titik penyekatan jalur mudik, seperti di Pos Kedung Waringin, Bekasi, akhirnya jebol. Jebolnya penjagaan polisi ini tidak bisa dihindarkan, karena pemudik yang datang semakin banyak hingga ribuan orang dan menyebabkan kemacetan yang panjang di lokasi penyekatan.
Baca juga: Buat Jalur Penyekatan Mudik Tiap 3-5 Km, Polisi: Bukan Maksud Kami Menyiksa
Sedangkan pemerintah telah melarang mudik sejak 6 hingga 17 Mei 2021. Namun, masih ada masyarakat yang nekat mudik meskipun telah dilarang. Melihat hal ini, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo pun geram.
Doni mengatakan, ditegakkan sanksi pun kalau niatnya tidak diimbangi dengan kesadaran yang tinggi maka akan percuma tetap nekat pulang. "Ditegakkan sanksi pun kalau niatnya sudah kuat, tidak diimbangi dengan kesadaran yang tinggi, percuma juga pasti akan nekat pulang," kata Doni Monardo dalam briefing Journalist secara virtual, Senin (10/5/2021).
Baca juga: Penyekatan Larangan Mudik di Tol Jawa dan Sumatera Ada 61 Titik
Padahal kata Doni, kepulangan atau mobilitas masyarakat ke kampung halaman justru akan membahayakan kondisi orang tua karena akan berpotensi terpapar virus Corona (Covid-19). "Padahal kepulangan itu membahayakan kondisi orang tua di kampung halaman," ujar Dono.
Doni pun menegaskan, tidak semua daerah punya rumah sakit, tidak semua daerah punya dokter yang memadai. "Tidak semua daerah punya rumah sakit, tidak semua daerah punya dokter yang memadai," ucapnya.
Baca juga: Gagal Tembus Karawang, Ribuan Pemudik Motor Dipaksa Putar Balik ke Bekasi
"Ketika nanti kita kembali, kita orang muda yang usianya di bawah 40 tahun, pulang lagi ke tempat kerja di kota, maka bisa jadi orang tua kita terpapar Covid, tidak tersamarkan, meninggal wafat. Penyesalan akan terjadi selama hidup, tidak akan ada lagi gunanya," tegas Doni.
Oleh karena itu, tegas Doni, untuk menghindari orang tua terpapar Covid-19 maka harus dilakukan dengan menghindari pertemuan fisik. "Jadi sekali lagi menghindari pertemuan fisik adalah langkah strategis. Pemerintah telah menetapkan peniadaan mudik, dilarang mudik," ungkap Doni.
Apalagi kata Doni, saat ini masih ada 7% atau 18,9 juta masyarakat Indonesia masih ngotot mudik. "Namun demikian kita akui masih ada 7% warga negara kita yang masih ngotot tetap mudik, 7%. Artinya 18,9 juta orang tetap akan mudik akan pulang," tutupnya.
Baca juga: Buat Jalur Penyekatan Mudik Tiap 3-5 Km, Polisi: Bukan Maksud Kami Menyiksa
Sedangkan pemerintah telah melarang mudik sejak 6 hingga 17 Mei 2021. Namun, masih ada masyarakat yang nekat mudik meskipun telah dilarang. Melihat hal ini, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo pun geram.
Doni mengatakan, ditegakkan sanksi pun kalau niatnya tidak diimbangi dengan kesadaran yang tinggi maka akan percuma tetap nekat pulang. "Ditegakkan sanksi pun kalau niatnya sudah kuat, tidak diimbangi dengan kesadaran yang tinggi, percuma juga pasti akan nekat pulang," kata Doni Monardo dalam briefing Journalist secara virtual, Senin (10/5/2021).
Baca juga: Penyekatan Larangan Mudik di Tol Jawa dan Sumatera Ada 61 Titik
Padahal kata Doni, kepulangan atau mobilitas masyarakat ke kampung halaman justru akan membahayakan kondisi orang tua karena akan berpotensi terpapar virus Corona (Covid-19). "Padahal kepulangan itu membahayakan kondisi orang tua di kampung halaman," ujar Dono.
Doni pun menegaskan, tidak semua daerah punya rumah sakit, tidak semua daerah punya dokter yang memadai. "Tidak semua daerah punya rumah sakit, tidak semua daerah punya dokter yang memadai," ucapnya.
Baca juga: Gagal Tembus Karawang, Ribuan Pemudik Motor Dipaksa Putar Balik ke Bekasi
"Ketika nanti kita kembali, kita orang muda yang usianya di bawah 40 tahun, pulang lagi ke tempat kerja di kota, maka bisa jadi orang tua kita terpapar Covid, tidak tersamarkan, meninggal wafat. Penyesalan akan terjadi selama hidup, tidak akan ada lagi gunanya," tegas Doni.
Oleh karena itu, tegas Doni, untuk menghindari orang tua terpapar Covid-19 maka harus dilakukan dengan menghindari pertemuan fisik. "Jadi sekali lagi menghindari pertemuan fisik adalah langkah strategis. Pemerintah telah menetapkan peniadaan mudik, dilarang mudik," ungkap Doni.
Apalagi kata Doni, saat ini masih ada 7% atau 18,9 juta masyarakat Indonesia masih ngotot mudik. "Namun demikian kita akui masih ada 7% warga negara kita yang masih ngotot tetap mudik, 7%. Artinya 18,9 juta orang tetap akan mudik akan pulang," tutupnya.
(maf)
Lihat Juga :