Tak Mudik, Lebaran Tetap Asyik

Rabu, 05 Mei 2021 - 05:33 WIB
loading...
A A A
Karenanya Ace sepakat dan membenarkan saat disinggung bahwa tanpa lebaran bisa tetap asik tanpa mudik. Sekali lagi kata dia, yang paling penting adalah masyarakat masih bisa berinteraksi dengan sanak saudara melalui teknologi komunikasi.

"Yang harus diprioritaskan oleh kita kan justru adalah kita melindungi saudara kita, kita melindungi keluarga kita. Kalau kita sayang dengan orang tua dan keluarga kita di kampung, maka sebaiknya kita tidak pulang (mudik). Sebab, siapa tahu kita punya (sebagai) orang tanpa gejala yang bisa menyebarkan kepada saudara-saudara kita yang ada di kampung," tegas Ace.

"Justru menurut saya, sangat zalim ketika kita tidak bisa memastikan apakah diri kita ini terpapar Covid-19 atau tidak, kemudian malah menyebarkan Covid-19," sambungnya.

Ketua Umum Ikatan Alumni (IKAL) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini lantas menuturkan, ketika larangan mudik tidak diberlakukan kemudian dibuka selebar-lebarnya, maka akan terjadi migrasi atau perpindahan penduduk yang sangat besar ke kampung-kampung. Akibatnya akan terjadi kerumunan dan tumpah ruahnya orang-orang di kampung-kampung serta juga terjadi kemacetan di desa-desa.

Oleh karena itu, Ace mengingatkan, kalau setiap dari kita sayang dengan saudara dan keluarga di kampung, maka sebaiknya menahan diri untuk tidak mudik lebaran.

"Kita menahan diri dulu lah sampai kemudian herd immunity, kekebalan komunitas, terhadap Covid-19 ini betul-betul bisa terwujud. Mudah-mudahan tahun ini (2021) bisa terwujud apa yang disebut kekebalan komunitas itu. Apalagi saat ini seperti kita ketahui, pemerintah sedang gencar-gencarnya melaksanakan program vaksinasi nasional. Tentu vaksinasi nasional itu akan sukses dengan tetap dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat," ucap Ace.

Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini DPP Partai Golkar ini lantas menyatakan, pemberlakuan kebijakan pemerintah melarang mudik Lebaran 1442 Hijriah/2021 kurun 6-17 Mei serta pemberlakuan masa pengetatan pra larangan mudik mulai 22 April-5 Mei dan pemberlakuan pengetatan pasca larangan mudik sejak 18-24 Mei merupakan kebijakan yang tepat dan realistis.

Menurut dia, pemberlakuan kebijakan tersebut merupakan bentuk pencegahan agar Covid-19 tidak menyebarluas ke pelosok-pelosok dan kampung-kampung. Musababnya, bagaimana pun Covid-19 merupakan penyakit yang cepat menyebar karena proses interaksi manusia. Ditambah lagi, saat ini di Indonesia sudah ada beberapa varian baru Covid-19 yang salah satu proses penyebarannya adalah dengan tanpa gejala.

"Kalau penyebarannya sampai ke kampung-kampung, sampai ke pelosok-pelosok, tentu penyebaran Covid-19 pasti tidak akan bisa terkendali. Saya kira kebijakan ini, pertimbangan pemerintah, sangat realistis," ujar Ace.

Diungkapkan, dalam beberapa kali libur panjang sebelumnya seperti akhir tahun 2020 terjadi lonjakan kasus Covid-19 satu pekan setelah libur panjang tersebut. Bahkan lonjakannya teridentifikasi terjadi sangat tajam. Dengan berpijak pada kejadian seperti sebelumnya itu, kata Ace, maka semua pihak termasuk masyarakat umum harus mewaspadainya saat akan memasuki Lebaran 1442 Hijriah/2021.

"Saya khawatir, kalau misalnya dibiarkan masyarakat tetap mudik, proses interaksi manusia dari kota ke desa atau ke kampung itu tidak terkendali, maka penyebaran Covid-19 akan semakin merajalela di Indonesia," tegasnya.

Jika pergerakan masyarakat saat mudik ke kampung atau desa tidak terkendal, maka dikhawatirkan fasilitas kesehatan (faskes) tidak bisa menampung. Musababnya, faskes di kampung-kampung sangat terbatas. Kondisi ini, menurut dia, jelas berbeda dengan faskes di kota yang di antaranya ada faskes milik pemerintah sudah tersedia.

"Nah, kalau di kampung bagaimana kalau terjadi ada yang terkonfirmasi penyakit tersebut (Covid-19) dan menjangkiti masyarakat di desa? Nah, ini yang harus kita hindari," ungkapnya.

Pemudik Lebih Tinggi dari Tahun Lalu
PT Jasa Marga (Persero) memprediksi jumlah kendaraan yang keluar masuk Jabodetabek pada periode 6-12 Mei 2021 (H-7 sampai H-1 Lebaran) sebanyak 593.185 mobil. Angka tersebut mengalami kenaikan 27,19% dibandingkan periode mudik Lebaran tahun 2020.
Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru mengakui jika membandingkan dengan periode mudik tahun lalu ada kenaikan. Mengingat pada tahun lalu merupakan awal-awal pandemi virus Covid-19 masuk ke Indonesia.

Operation and Maintenance Management Group Head Jasa Marga Atika Dara Prahita mengatakan, kendaraan keluar masuk Jabodetabek pada periode Lebaran akan melalui empat gerbang tol (GT). Pertama adalah GT Cikampek Utama untuk kendaraan yang akan menuju timur, lalu GT Kalihurip Utama untuk kendaraan yang akan menuju Bandung. Selanjutnya ada Ciawi untuk kendaraan yang menuju Puncak, dan terakhir GT Cikupa namun bukan ruas tol yang dikelola Jasa Marga.

“Kami juga menghitung atau memprediksi adanya penurunan volume lalu lintas transakasi di empat gerbang utama, yaitu di Cikampek Utama menuju Timur, GT Kalihurip Utama itu ke arah Bandung, GT Ciawi menuju Puncak, dan GT Cikupa yang dikelola oleh non-Jasamarga,” jelasnya.
Menurut Atika, jumlah kendaraan yang akan keluar Jabodetabek pada periode larangan mudik mencapai 593.185 kendaraan. Dari jumlah tersebut, puncak arus mudik diperkirakan akan terjadi pada H-2 Lebaran dengan perkiraan 109.327 kendaraan.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan lalu lintas normal, ada sedikit penurunan sebesar 35,9% dari lalu lintas normal 2020. Sedangkan jika dibandingkan dengan Lebaran 2019 juga mengalami penurunan sebesar 49,53%.“Di empat GT ini kami memprediksi adanya penurunan lalin pada periode 6-12 Mei ke keluar Jabodetabek sekitar 35,9%. Kami memprediksi puncaknya 11 Mei atau H-2,” jelasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Cari Keadilan, Arief...
Cari Keadilan, Arief Pramuhanto Kirim Surat Emosional buat Keluarga
Kapolri Sebut Angka...
Kapolri Sebut Angka Kecelakaan Mudik Turun, Lemkapi: Bukti Polri Hadir untuk Masyarakat
Momen Anies Tanda Tangani...
Momen Anies Tanda Tangani Lukisan Karya Pelajar SMA saat Open House Lebaran
Open House di Istana,...
Open House di Istana, Anak-Anak Dapat Mobil-mobilan hingga Boneka
SBY dan Keluarga Tiba...
SBY dan Keluarga Tiba di Istana, Halalbihalal dengan Prabowo
Prabowo akan Halalbihalal...
Prabowo akan Halalbihalal dengan SBY dan Jokowi di Istana Sore Ini
Lebaran Betawi 2026...
Lebaran Betawi 2026 Jadi Ajang Silaturahmi dan Pelestarian Budaya
PLN Catat Lonjakan Penggunaan...
PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025 di Arus Mudik Lebaran
Dari WhatsApp hingga...
Dari WhatsApp hingga Netflix, Ini Biang Kerok Lonjakan Trafik 21% XLSMART Saat Lebaran
Rekomendasi
Tarif Sejumlah Rute...
Tarif Sejumlah Rute Transjabodetabek Bakal Dinaikkan, Termasuk Blok M-Bandara Soetta
Pantai Pasir Putih,...
Pantai Pasir Putih, Junior Chef, dan Petualangan Alam Warnai Liburan Keluarga di HOMM Laguna Bintan
Selain Memaki, Trump...
Selain Memaki, Trump Juga Disebut Ancam Netanyahu via Istrinya atas Rencana Israel di Lebanon
Berita Terkini
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Pengadilan Tinggi Singapura...
Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Gugatan Paulus Tanos, Menkum Koordinasi KPK dan Polri
Eks Wakil Kepala BGN...
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Masih Syok setelah Jadi Tersangka Korupsi
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved