Saatnya Bangga Buatan Indonesia
Rabu, 05 Mei 2021 - 06:19 WIB
loading...
A
A
A
Ternyata, harus diakui pandemi Covid-19 yang membuat porak-poranda perekonomian nasional telah mengantarkan pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan memanfaatkan platform digital. Berdasarkan data publikasi dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) terdapat 3,8 juta UMKM go digital melalui gerakan BBI. Angka tersebut melebihi target yang dipatok sebanyak 2 juta UMKM digital hingga akhir tahun lalu. Angka tersebut terus melaju dan mencapai 4,8 juta UMKM hingga akhir Maret 2021. Pemerintah mengakui bahwa UMKM digital adalah kunci pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, pemerintah menargetkan 30 juta UMKM go digital pada 2030.
Berharap pelaksanaan program BBI tidak hanya slogan. Sebab, program sejenis jauh sebelumnya sudah digaungkan, misalnya “Aku Cinta Produk Indonesia” tetapi faktanya produk dalam negeri tetap tidak berdaya di negeri sendiri. Tak mengherankan bila dua bulan lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerukan perang terbuka terhadap produk dari luar negeri untuk dimusuhi. Ajakan orang nomor satu di Indonesia itu kontan menyulut pro dan kontra. Bagi yang pro ajakan Presiden memusuhi produk asing memaknai bahwa produk lokal harus diberdayakan oleh bangsa sendiri sehingga menilai pernyataan Jokowi hal positif. Namun, pihak yang kontra justru mempertanyakan sejauh mana kesiapan produk lokal untuk menangkal produk asing.
Menggaungkan BBI terselip sebuah semangat bagaimana membangkitkan seluruh elemen bangsa untuk berkontribusi dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional, dengan membangun loyalitas konsumen terhadap produk-produk dalam negeri. Persoalannya, tentu tidak sesederhana yang dibayangkan untuk membuat masyarakat bangga dan membeli produk dalam negeri. Untuk memenangi persaingan yang superketat sejumlah tantangan harus disingkirkan, seperti bagaimana menghadirkan produk berkualitas dengan harga kompetitif sehingga konsumen punya pilihan untuk bangga buatan Indonesia.(*)
Berharap pelaksanaan program BBI tidak hanya slogan. Sebab, program sejenis jauh sebelumnya sudah digaungkan, misalnya “Aku Cinta Produk Indonesia” tetapi faktanya produk dalam negeri tetap tidak berdaya di negeri sendiri. Tak mengherankan bila dua bulan lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerukan perang terbuka terhadap produk dari luar negeri untuk dimusuhi. Ajakan orang nomor satu di Indonesia itu kontan menyulut pro dan kontra. Bagi yang pro ajakan Presiden memusuhi produk asing memaknai bahwa produk lokal harus diberdayakan oleh bangsa sendiri sehingga menilai pernyataan Jokowi hal positif. Namun, pihak yang kontra justru mempertanyakan sejauh mana kesiapan produk lokal untuk menangkal produk asing.
Menggaungkan BBI terselip sebuah semangat bagaimana membangkitkan seluruh elemen bangsa untuk berkontribusi dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional, dengan membangun loyalitas konsumen terhadap produk-produk dalam negeri. Persoalannya, tentu tidak sesederhana yang dibayangkan untuk membuat masyarakat bangga dan membeli produk dalam negeri. Untuk memenangi persaingan yang superketat sejumlah tantangan harus disingkirkan, seperti bagaimana menghadirkan produk berkualitas dengan harga kompetitif sehingga konsumen punya pilihan untuk bangga buatan Indonesia.(*)
(bmm)
Lihat Juga :