Survei Indikator: 20,8% Masyarakat Masih Ingin Mudik dan Berwisata

loading...
Survei Indikator: 20,8% Masyarakat Masih Ingin Mudik dan Berwisata
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi memaparkan masih ada sekitar 20,8% masyarakat yang kemungkinan besar akan melakukan mudik pada Lebaran tahun ini. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Jelang Hari Raya Idul Fitri, Indikator Politik Indonesia menggelar survei nasional yang bertajuk “Persepsi Ekonomi dan Politik Jelang Lebaran”. Indikator juga menanyakan opini publik tentang isu sosial-ekonomi yang berkaitan dengan lebaran tahun ini, antara lain tentang ketersediaan beras dan keputusan pemerintah tentang pelarangan mudik pada Lebaran tahun ini, serta intensi mudik warga meski ada pelarangan tersebut.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi memaparkan bahwa, sekitar, 37,2% masyarakat sebelum ada wabah COVID-19 biasanya melakukan tradisi mudik (pulang kampung) Lebaran. Sementara 62,4% masyarakat menyatakan tidak. Baca juga: Cegah Warga Ibu Kota Mudik, Polda Metro Jaya Terjunkan 4.276 Personel Gabungan

Terkait dengan kebijakan pelarangan mudik tahun ini, kata Burhanuddin, masih ada sekitar 20,8% masyarakat yang kemungkinan besar akan melakukan mudik pada Lebaran tahun ini, melakukan kunjungan pada sanak saudara atau pergi ke tempat wisata.

“2,9% sangat besar, 17,9% cukup besar, 38,6% kecil, 34,2% sangat kecil dan sisanya tidak menjawab,” ujar Burhanuddin dalam rilis survei secara daring, Selasa (4/5/2021).

Kemudian, lanjut dia, hampir separuh masyarakat mendukung kebijakan pelarangan mudik yakni sebesar 45,8%, 28% tidak setuju, sementara 23% tidak memilih setuju ataupun tidak setuju dengan kebijakan itu. Alasannya, kebanyakan masyarakat ingin mengurangi penyebaran COVID-19 sebesar 36,4%, adar pandemi segera berakhir 15,7%, 13% mematuhi arahan pemerintah, dan lain-lainnya.



Sementara, kata Burhanuddin, bagi yang tidak setuju dengan larangan mudik, alasannya adalah ingin berkunjung ke rumah keluarga 18,4%, rindu pada keluarga 12,2%, bisa menggunakan protokol kesehatan 9,2%, kebiasaan tahunan 8,5% dan alasan lainnya.

“Berkunjung ke rumah keluarga menjadi penyebab utama warga tidak setuju dengan pelarangan mudik,” paparnya. Baca juga: Antisipasi Penyebaran Covid-19, Unpad Larang Dosen dan Tenaga Kependidikan Mudik

Survei menggunakan kontak telepon terhadap 1.200 responden yang dipilih acak dengan metode simple random sampling dari kumpulan sampel acak survei tatap muka selama Maret 2018-Maret 2020 yang beerasal dari seluruh provinsi. Survei ini memiliki toleransi kesalahan (margin of error) +- 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top