Mengantispasi Konflik Laut China Selatan
Jum'at, 30 April 2021 - 05:51 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Natuna Dibidik Jadi KEK Kelautan, Menteri Trenggono: Akan Saya Sampaikan ke Pusat
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu ini membeberkan, berbagai risiko terkait dengan potensi konflik di LCS sudah sejak lama menjadi perhatian Kemlu. Oleh karena itu, Indonesia tidak hentinya mendorong kerja sama di antara negara-negara di kawasan demi terciptanya strategic trust dan kerja sama di LCS.
Dia menjelaskan, beberapa pihak memperkirakan antara 20 % sampai dengan 33 % perdagangan internasional melalui perairan di LCS.
"Oleh karena itu, Indonesia berkepentingan untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di LC, terutama mengingat mitra-mitra penting ekonomi RI adalah RRT, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan," ujarnya.
Faizasyah menggariskan, diplomasi Kemlu yang dimainkan Indonesia di tataran global untuk membicarakan LCS tentunya masih memiliki signifikansi. Indonesia terus memajukan interkasi antar-negara di kawasan maritim yang berdasarkan pada hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982.
Dalam hal ini, diplomasi RI di forum-forum internasional terkait dengan hukum laut terefleksikan juga dari kegiatan diplomasi di tataran regional dan bilateral. Karenanya Faizasyah membenarkan saat disinggung posisi dan peran Indonesia dalam mengatasi ketegangan di LCS.
"Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN mempunyai peran penting sebagai honest broker dalam mendorong saling percaya dan kerja sama di antara para claimant states. Demi menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan LCS, Indonesia berupaya mendorong adanya dialog dalam forum regional dan melalui interaksi bilateral," ungkapnya.
Dia menuturkan, hubungan Tiongkok dengan negara-negara ASEAN tidak hanya terfokus pada isu LCS. Kemitraan Dialog ASEAN-RRT, yang berkembang sejak tahun 1996, mencakup kerja sama di berbagai bidang yang saling menguntungkan dan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat di kawasan. Faizasyah melanjutkan,
untuk mencari solusi dalam penyelesaian ketegangan di LCS, maka Indonesia selalu mendorong dialog di antara claimant states di LCS. Dialog tersebut baik melalui dialog track 2 atau track 1.5, maupun forum-forum kerja sama G-to-G seperti ASEAN-China.
"Tentunya tidak akan pernah ada keuntungan dalam suatu konflik. Oleh karena itu selalu diupayakan cara untuk me-manage konflik dan memperat kerja sama di perairan LCS," ucap Faizasyah.
Episentrum Kompetisi
Presiden National Institute for South China Sea Studies, China, Wu Shicun, menilai, meskipun ada potensi risiko perang di LCS, seharusnya itu tidak dipandang sebagai pertarungan antar negara besar saja. Namun, itu juga sebagai episentrum kompetisi strategi besar antara China dan AS di kawasan Indo-Pasifik.
Beijing dan Washington tetap berkompetisi untuk memiliki peran lebih besar di kawasan Indo-Pasifik. Padahal, dalam code of conduct LCS tidak melibatkan Washington, tetapi lebih fokus pada ASEAn dan China. Beijing justru melihat Washington tidak mau bernegosiasi dan justru mempengaruhi negara lain untuk memecah belah proses negosiasi.
China dan AS lebih fokus pada kompetisi untuk menguasai laut di LCS. Pertumbuhan kekuatan militer China yang terus menguat menjadikan AS mencoba mencari keseimbangan di Asia agar tetap menjadi kekuatan penting. Pembangunan kekuatan Angkatan Laut China dan proyek reklamasi di LCS juga menjadi upaya menantang AS yang berusaha menguasai LCS. Akibatnya, AS dan aliansinya pun meningkatkan kehadiran militer di LCS untuk menjaga keseimbangan kekuatan.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu ini membeberkan, berbagai risiko terkait dengan potensi konflik di LCS sudah sejak lama menjadi perhatian Kemlu. Oleh karena itu, Indonesia tidak hentinya mendorong kerja sama di antara negara-negara di kawasan demi terciptanya strategic trust dan kerja sama di LCS.
Dia menjelaskan, beberapa pihak memperkirakan antara 20 % sampai dengan 33 % perdagangan internasional melalui perairan di LCS.
"Oleh karena itu, Indonesia berkepentingan untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di LC, terutama mengingat mitra-mitra penting ekonomi RI adalah RRT, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan," ujarnya.
Faizasyah menggariskan, diplomasi Kemlu yang dimainkan Indonesia di tataran global untuk membicarakan LCS tentunya masih memiliki signifikansi. Indonesia terus memajukan interkasi antar-negara di kawasan maritim yang berdasarkan pada hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982.
Dalam hal ini, diplomasi RI di forum-forum internasional terkait dengan hukum laut terefleksikan juga dari kegiatan diplomasi di tataran regional dan bilateral. Karenanya Faizasyah membenarkan saat disinggung posisi dan peran Indonesia dalam mengatasi ketegangan di LCS.
"Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN mempunyai peran penting sebagai honest broker dalam mendorong saling percaya dan kerja sama di antara para claimant states. Demi menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan LCS, Indonesia berupaya mendorong adanya dialog dalam forum regional dan melalui interaksi bilateral," ungkapnya.
Dia menuturkan, hubungan Tiongkok dengan negara-negara ASEAN tidak hanya terfokus pada isu LCS. Kemitraan Dialog ASEAN-RRT, yang berkembang sejak tahun 1996, mencakup kerja sama di berbagai bidang yang saling menguntungkan dan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat di kawasan. Faizasyah melanjutkan,
untuk mencari solusi dalam penyelesaian ketegangan di LCS, maka Indonesia selalu mendorong dialog di antara claimant states di LCS. Dialog tersebut baik melalui dialog track 2 atau track 1.5, maupun forum-forum kerja sama G-to-G seperti ASEAN-China.
"Tentunya tidak akan pernah ada keuntungan dalam suatu konflik. Oleh karena itu selalu diupayakan cara untuk me-manage konflik dan memperat kerja sama di perairan LCS," ucap Faizasyah.
Episentrum Kompetisi
Presiden National Institute for South China Sea Studies, China, Wu Shicun, menilai, meskipun ada potensi risiko perang di LCS, seharusnya itu tidak dipandang sebagai pertarungan antar negara besar saja. Namun, itu juga sebagai episentrum kompetisi strategi besar antara China dan AS di kawasan Indo-Pasifik.
Beijing dan Washington tetap berkompetisi untuk memiliki peran lebih besar di kawasan Indo-Pasifik. Padahal, dalam code of conduct LCS tidak melibatkan Washington, tetapi lebih fokus pada ASEAn dan China. Beijing justru melihat Washington tidak mau bernegosiasi dan justru mempengaruhi negara lain untuk memecah belah proses negosiasi.
China dan AS lebih fokus pada kompetisi untuk menguasai laut di LCS. Pertumbuhan kekuatan militer China yang terus menguat menjadikan AS mencoba mencari keseimbangan di Asia agar tetap menjadi kekuatan penting. Pembangunan kekuatan Angkatan Laut China dan proyek reklamasi di LCS juga menjadi upaya menantang AS yang berusaha menguasai LCS. Akibatnya, AS dan aliansinya pun meningkatkan kehadiran militer di LCS untuk menjaga keseimbangan kekuatan.
Lihat Juga :