Sentil Ali Ngabalin, PPP: Jangan Mendramatisir Reshuffle Kabinet
Rabu, 14 April 2021 - 14:34 WIB
loading...
Waketum DPP PPP Arsul Sani meminta semua pihak tidak perlu mendramatisir kabar tentang rencana reshuffle Kabinet Indonesia Maju. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP Partai Persatuan Pembangunan ( PPP ) Arsul Sani meminta semua pihak tidak perlu mendramatisir kabar tentang rencana perombakan ( reshuffle) Kabinet Indonesia Maju.
"Jadi PPP meminta, termasuk yang di lingkaran Istana seperti Bung Ngabalin, jangan malah mendramatisir soal reshuffle tersebut, termasuk soal waktunya," kata Arsul saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (14/4/2021).
Wakil Ketua MPR itu mengatakan, soal reshuffle ini bukan hal yang luar biasa bagi partainya. PPP tidak ingin melihatnya sebagai momen politik secara berlebihan, apalagi ikut menjadikannya sebagai sebuah spekulasi politik.
Baca juga: Ngabalin Ungkap Istana Bakal Reshuffle Kabinet Minggu Ini
Anggota Komisi III DPR itu juga menganalogikan kabinet pemerintahan itu seperti tim sepak bola. Bedanya, jika di sepak bola yang menjadi komandan dan bertanggung jawab atas timnya adalah pelatih, jika di kabinet adalah Presiden.
"Nah kalau yang jadi komandan melihat bahwa kinerja atau irama anggota timnya sudah tidak sesuai yang dikehendakinya atau ingin menekankan gaya bermain tertentu yang berbeda, ya maka wajar dilakukan penggantian," ujarnya.
"Jadi PPP meminta, termasuk yang di lingkaran Istana seperti Bung Ngabalin, jangan malah mendramatisir soal reshuffle tersebut, termasuk soal waktunya," kata Arsul saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (14/4/2021).
Wakil Ketua MPR itu mengatakan, soal reshuffle ini bukan hal yang luar biasa bagi partainya. PPP tidak ingin melihatnya sebagai momen politik secara berlebihan, apalagi ikut menjadikannya sebagai sebuah spekulasi politik.
Baca juga: Ngabalin Ungkap Istana Bakal Reshuffle Kabinet Minggu Ini
Anggota Komisi III DPR itu juga menganalogikan kabinet pemerintahan itu seperti tim sepak bola. Bedanya, jika di sepak bola yang menjadi komandan dan bertanggung jawab atas timnya adalah pelatih, jika di kabinet adalah Presiden.
"Nah kalau yang jadi komandan melihat bahwa kinerja atau irama anggota timnya sudah tidak sesuai yang dikehendakinya atau ingin menekankan gaya bermain tertentu yang berbeda, ya maka wajar dilakukan penggantian," ujarnya.
Lihat Juga :