Gempa 6,1 M di Malang, BMKG Sebut Ini Penyebab Ribuan Rumah Rusak

loading...
Gempa 6,1 M di Malang, BMKG Sebut Ini Penyebab Ribuan Rumah Rusak
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkap penyebab banyaknya rumah dan bangunan yang rusak saat terjadi gempa berkekuatan 6,1 magnitudo di Malang, Jawa Timur. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) mengungkap penyebab banyaknya rumah dan bangunan yang rusak saat terjadi gempa berkekuatan 6,1 magnitudo di Malang , Jawa Timur.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan banyaknya rumah dan bangunan rusak saat terjadi gempa salah satunya disebabkan buruknya struktur bangunan. Baca juga: Malang Kembali Diguncang Gempa, Getarannya Dirasakan Sampai Pantai Prigi Trenggalek

"Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom pada bagian sudutnya," ungkap Dwikorita melalui keterangan tertulisnya dikutip pada Rabu (14/4/2021).

Penyebab Kedua, lanjut Dwikorita, adalah kondisi batuan/tanah setempat. Kerusakan banyak terjadi pada endapan alluvium dan endapan lahar gunung api.

Ketiga, kondisi topografi setempat yang berupa lereng lembah yang tersusun oleh tanah atau batuan dengan klasifikasi kerapatan tanah (densitas) sedang. Terakhir keempat, adalah jarak terhadap pusat gempa.

"Ini temuan hasil survey Makroseismik dan Mikroseismik BMKG di Malang, Blitar, dan Lumajang. Salah satu titiknya yaitu di Desa Sumber Tangkil dan Desa Jogomulyan Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang yang merupakan wilayah terparah terdampak gempa," jelasnya.



Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan bahwa sebenarnya gempa tidak membunuh atau melukai. Justru, kata dia, bangunanlah yang melukai bahkan membunuh manusia. Maka dari itu, rumah atau bangunan perlu dipersiapkan dan direncanakan agar kuat dan tahan gempa.

"Potensi bahaya gempa bumi di Indonesia sangat besar, jadi harus diantisipasi dengan menerapkan building code dengan ketat dalam membangun struktur bangunan. Bangunan tahan gempa bumi wajib diberlakukan di daerah rawan gempa," tegasnya.

Sementara itu, Dwikorita menuturkan hasil survei yang dilakukan BMKG akan diserahkan kepada Pemda setempat sebagai bentuk peta mikrozonasi kerentanan gempa bumi yang selanjutnya menjadi dasar rekomendasi untuk rekonstruksi bangunan yang rusak/roboh agar dibangun pada zona dan standard bangunan yang tepat.

Seperti diketahui, gempa bumi bermagnitudo 6,1 mengguncang Malang, Jawa Timur dan sekitarnya pada Sabtu 10 April 2021 lalu. Musibah tersebut berdampak pada 15 kabupaten/kota di Jawa Timur, mulai dari Probolinggo hingga Ponorogo yang menyebabkan ribuan rumah dan ratusan fasilitas umum rusak. Baca juga: Usai Selatan Malang, Malam Ini Gempa Juga Mengguncang Sulawesi Utara

Menurut Data BNPB, Senin 12 April 2021, sebanyak 179 fasilitas umum rusak karena gempa bumi. Bencana itu juga mengakibatkan 1.361 rumah rusak ringan, 845 rumah rusak sedang, dan 642 rumah rusak berat.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top