Gempa 6,1 M di Malang, BMKG Sebut Ini Penyebab Ribuan Rumah Rusak
Rabu, 14 April 2021 - 08:35 WIB
loading...
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkap penyebab banyaknya rumah dan bangunan yang rusak saat terjadi gempa berkekuatan 6,1 magnitudo di Malang, Jawa Timur. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) mengungkap penyebab banyaknya rumah dan bangunan yang rusak saat terjadi gempa berkekuatan 6,1 magnitudo di Malang , Jawa Timur.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan banyaknya rumah dan bangunan rusak saat terjadi gempa salah satunya disebabkan buruknya struktur bangunan. Baca juga: Malang Kembali Diguncang Gempa, Getarannya Dirasakan Sampai Pantai Prigi Trenggalek
"Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom pada bagian sudutnya," ungkap Dwikorita melalui keterangan tertulisnya dikutip pada Rabu (14/4/2021).
Penyebab Kedua, lanjut Dwikorita, adalah kondisi batuan/tanah setempat. Kerusakan banyak terjadi pada endapan alluvium dan endapan lahar gunung api.
Ketiga, kondisi topografi setempat yang berupa lereng lembah yang tersusun oleh tanah atau batuan dengan klasifikasi kerapatan tanah (densitas) sedang. Terakhir keempat, adalah jarak terhadap pusat gempa.
"Ini temuan hasil survey Makroseismik dan Mikroseismik BMKG di Malang, Blitar, dan Lumajang. Salah satu titiknya yaitu di Desa Sumber Tangkil dan Desa Jogomulyan Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang yang merupakan wilayah terparah terdampak gempa," jelasnya.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan banyaknya rumah dan bangunan rusak saat terjadi gempa salah satunya disebabkan buruknya struktur bangunan. Baca juga: Malang Kembali Diguncang Gempa, Getarannya Dirasakan Sampai Pantai Prigi Trenggalek
"Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom pada bagian sudutnya," ungkap Dwikorita melalui keterangan tertulisnya dikutip pada Rabu (14/4/2021).
Penyebab Kedua, lanjut Dwikorita, adalah kondisi batuan/tanah setempat. Kerusakan banyak terjadi pada endapan alluvium dan endapan lahar gunung api.
Ketiga, kondisi topografi setempat yang berupa lereng lembah yang tersusun oleh tanah atau batuan dengan klasifikasi kerapatan tanah (densitas) sedang. Terakhir keempat, adalah jarak terhadap pusat gempa.
"Ini temuan hasil survey Makroseismik dan Mikroseismik BMKG di Malang, Blitar, dan Lumajang. Salah satu titiknya yaitu di Desa Sumber Tangkil dan Desa Jogomulyan Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang yang merupakan wilayah terparah terdampak gempa," jelasnya.
Lihat Juga :