MPR: Kegiatan Seni dan Budaya Perlu Perhatian Serius Pemangku Kepentingan
Rabu, 07 April 2021 - 18:46 WIB
loading...
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan, perlunya perhatian dari pemangku kepentingan agar para pekerja kreatif di Tanah Air tetap survive di tengah pandemi Covid-19. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan, perlunya perhatian dari pemangku kepentingan agar para pekerja kreatif bisa memanfaatkan setiap peluang yang mampu mendorong industri kreatif di Tanah Air tetap survive.
"Butuh kerja-kerja besar dan harus mendapat prioritas tinggi agar peluang yang ada pada industri kreatif bisa dimanfaatkan dengan baik para pekerja seni," kata Lestari saat membuka diskusi daring bertema Merumuskan Jalan Kebangkitan Industri Kreatif Pasca Pandemi yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (7/4/2021). Baca juga: PPKM Bakal Diperlonggar, Pekerja Seni Bisa Gelar Kegiatan Berkapasitas Maksimal 25%
Diskusi yang dimoderatori, Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah Luthfi Assyaukanie itu menghadirkan Komisaris Utama Telkomsel, Menteri Parekraf 2019-2020 Wishnutama Kusubandio, kemudian promotor event Harry ‘Koko’ Santoso dan seniman tradisional tarling Diana Sastra. Hadir juga Ketua DPP Partai Nasdem Bidang UMKM, Entreprenuer Industri Fashion Niluh Djelantik dan Pianis yang juga Komponis Ananda Sukarlan sebagai penanggap. Baca juga: Nasib Kesenian Tradisi di Tengah Pandemi
Menurut Lestari, saat ini Indonesia belum bisa dikatakan bebas dari pandemi dan masih dalam masa transisi menuju pengendalian penyebaran Covid-19. Sehingga pergerakan masyarakat, jelas Rerie panggilan Lestari, masih harus dibatasi. Akibatnya, pekerja di industri kreatif yang sebagian besar seniman terdampak. Bukan hanya itu, tegas anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu, dampak pembatasan mobilitas orang ini juga dirasakan masyarakat penikmat seni pertunjukan. "Jadi, baik seniman dan penontonnya terdampak di masa transisi ini. Ada aspek lain yang hilang dari rutinitas hiburan masyarakat," ujar Rerie.
Karena itu, jelasnya, saat ini harus ada upaya agar di masa transisi ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar industri kreatif tetap bergeliat dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.
Menteri Parekraf 2019-2020, Wishnutama Kusubandio berpendapat industri kreatif di masa pandemi ini sangat lekat dengan ekonomi digital. Namun, harus dipahami bahwa peluang di ekonomi digital ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurut dia, sangat disayangkan yang mendapatkan keuntungan lebih besar bukan platform-platform dari Indonesia. "Jadi yang paling dapat manfaat dari maraknya digitalisasi ekonomi ini bukan bangsa kita," ujarnya.
Padahal, peluang pendapatan ekonomi digital itu senilai USD155 miliar atau 10% dari GDP Indonesia. Wishnutama berharap pembangunan ekonomi kreatif harus komperhensif dari berbagai sisi. Untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi digital pada masa datang, tegasnya, para pemangku kepentingan harus melalukan persiapan secara matang.
"Butuh kerja-kerja besar dan harus mendapat prioritas tinggi agar peluang yang ada pada industri kreatif bisa dimanfaatkan dengan baik para pekerja seni," kata Lestari saat membuka diskusi daring bertema Merumuskan Jalan Kebangkitan Industri Kreatif Pasca Pandemi yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (7/4/2021). Baca juga: PPKM Bakal Diperlonggar, Pekerja Seni Bisa Gelar Kegiatan Berkapasitas Maksimal 25%
Diskusi yang dimoderatori, Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah Luthfi Assyaukanie itu menghadirkan Komisaris Utama Telkomsel, Menteri Parekraf 2019-2020 Wishnutama Kusubandio, kemudian promotor event Harry ‘Koko’ Santoso dan seniman tradisional tarling Diana Sastra. Hadir juga Ketua DPP Partai Nasdem Bidang UMKM, Entreprenuer Industri Fashion Niluh Djelantik dan Pianis yang juga Komponis Ananda Sukarlan sebagai penanggap. Baca juga: Nasib Kesenian Tradisi di Tengah Pandemi
Menurut Lestari, saat ini Indonesia belum bisa dikatakan bebas dari pandemi dan masih dalam masa transisi menuju pengendalian penyebaran Covid-19. Sehingga pergerakan masyarakat, jelas Rerie panggilan Lestari, masih harus dibatasi. Akibatnya, pekerja di industri kreatif yang sebagian besar seniman terdampak. Bukan hanya itu, tegas anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu, dampak pembatasan mobilitas orang ini juga dirasakan masyarakat penikmat seni pertunjukan. "Jadi, baik seniman dan penontonnya terdampak di masa transisi ini. Ada aspek lain yang hilang dari rutinitas hiburan masyarakat," ujar Rerie.
Karena itu, jelasnya, saat ini harus ada upaya agar di masa transisi ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya agar industri kreatif tetap bergeliat dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.
Menteri Parekraf 2019-2020, Wishnutama Kusubandio berpendapat industri kreatif di masa pandemi ini sangat lekat dengan ekonomi digital. Namun, harus dipahami bahwa peluang di ekonomi digital ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurut dia, sangat disayangkan yang mendapatkan keuntungan lebih besar bukan platform-platform dari Indonesia. "Jadi yang paling dapat manfaat dari maraknya digitalisasi ekonomi ini bukan bangsa kita," ujarnya.
Padahal, peluang pendapatan ekonomi digital itu senilai USD155 miliar atau 10% dari GDP Indonesia. Wishnutama berharap pembangunan ekonomi kreatif harus komperhensif dari berbagai sisi. Untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi digital pada masa datang, tegasnya, para pemangku kepentingan harus melalukan persiapan secara matang.
Lihat Juga :