Harus Kritis, Milenial Jangan Terhasut Kelompok Radikal
Rabu, 31 Maret 2021 - 09:54 WIB
loading...
Pengamat Militer dan Intelijen, Susaningtyas Kertopati mengatakan kebanyakan milenial masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Generasi milenial harus lebih kritis dalam menyikapi setiap isu. Dengan bersikap kritis, milenial diharapkan bisa terhindar dari kelompok radikal .
Menurut Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati, kebanyakan milenial masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh. Wanita yang akrab disapa Mbak Nuning ini berpendapat bahwa sangat sedikit dari usia milenial memiliki karakter yang kuat, sehingga mudah dipengaruhi hal-hal yang melawan negara. Baca juga: BIN Sebut Medsos Telah Menjadi Inkubator Suburnya Radikalisme
"Pola rekrutmen (teroris) saat ini berkembang menjadi lebih terbuka menggunakan ruang publik seperti sekolah kampus, perkumpulan agama, dan lain-lain," ujarnya, Selasa (30/3/2021).
Dia menilai milenial perlu kritis jika menyangkut hal terkait pilihan hidupnya. "Kritis itu tentu bila menyangkut hal terkait dengan pilihan hidupnya. Bila salah ajaran maka kritis itu muncul justru sebagai anti ideologi negara," jelasnya.
Nuning berpesan kepada milenial agar bijak memilih pergaulan dan menghindari kelompok garis keras. Sedangkan penegak hukum harus bisa membaca penetrasi ideologi yang dinormalisasikan sehingga menciptakan enabling environment bagi kelompok teroris untuk melakukan rekrutmen, kaderisasi, dan mendapatkan dukungan dana dan politik.
Menurut Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati, kebanyakan milenial masih mencari jati diri dan mengikuti arah pihak yang paling berpengaruh. Wanita yang akrab disapa Mbak Nuning ini berpendapat bahwa sangat sedikit dari usia milenial memiliki karakter yang kuat, sehingga mudah dipengaruhi hal-hal yang melawan negara. Baca juga: BIN Sebut Medsos Telah Menjadi Inkubator Suburnya Radikalisme
"Pola rekrutmen (teroris) saat ini berkembang menjadi lebih terbuka menggunakan ruang publik seperti sekolah kampus, perkumpulan agama, dan lain-lain," ujarnya, Selasa (30/3/2021).
Dia menilai milenial perlu kritis jika menyangkut hal terkait pilihan hidupnya. "Kritis itu tentu bila menyangkut hal terkait dengan pilihan hidupnya. Bila salah ajaran maka kritis itu muncul justru sebagai anti ideologi negara," jelasnya.
Nuning berpesan kepada milenial agar bijak memilih pergaulan dan menghindari kelompok garis keras. Sedangkan penegak hukum harus bisa membaca penetrasi ideologi yang dinormalisasikan sehingga menciptakan enabling environment bagi kelompok teroris untuk melakukan rekrutmen, kaderisasi, dan mendapatkan dukungan dana dan politik.
Lihat Juga :